Bursa saham Asia ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 1 April 2025. Kenaikan paling menonjol terjadi di Korea Selatan dan Jepang, meski pasar global masih dibayangi kekhawatiran inflasi serta ketidakpastian ekonomi.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melonjak 3,71% ke level 52.958,23. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan memimpin penguatan kawasan dengan kenaikan 5,78% ke posisi 5.344,29.
Penguatan juga terlihat di pasar lain. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,93% menjadi 25.266,69, sedangkan Shanghai Composite menguat 1,16% ke level 3.936,96.
Meski mayoritas indeks bergerak positif, sentimen global masih cenderung menekan. Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat kembali mengarah ke sikap lebih ketat, seiring lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini tercermin dari kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati kisaran 4,3–4,4%.
Harga minyak dunia yang bertahan di atas USD100 per barel turut meningkatkan risiko inflasi global dan menambah tekanan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, juga memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Dari China, data ekonomi yang belum menunjukkan pemulihan solid disebut membatasi optimisme investor terhadap Asia secara keseluruhan. Chief Economist Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, mengatakan prospek kuartal II masih belum jelas mengingat dampak negatif dari tingginya harga energi. Ia menambahkan pasar semakin khawatir terhadap risiko perlambatan pertumbuhan global dan gangguan rantai pasok.
Sementara itu, Chief Investment Officer GAMA Asset Management, Rajeev De Mello, menyoroti penurunan likuiditas yang membuat aktivitas perdagangan lebih berhati-hati. Ia menyebut proses transaksi menjadi lebih lama dan para pelaku pasar cenderung mengurangi ukuran posisi mereka.