BERITA TERKINI
CESGS UNAIR Raih Pendanaan PUI-PT 2025 untuk Perkuat Riset dan Inovasi ESG

CESGS UNAIR Raih Pendanaan PUI-PT 2025 untuk Perkuat Riset dan Inovasi ESG

Center for Environmental, Social, and Governance Studies (CESGS) Universitas Airlangga (UNAIR) meraih bantuan Pendanaan Program Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perguruan Tinggi (PUI-PT) Tahun Anggaran 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek). Pendanaan ini disebut menjadi langkah penting untuk mendukung visi CESGS, termasuk mendorong keberlanjutan sektor bisnis Indonesia pada 2030 dan memperkuat posisi sebagai Regional Top-of-Mind ESG Center.

Pemimpin CESGS, Prof Iman Harymawan, menyatakan pendanaan tersebut memperkuat peran CESGS sebagai pusat riset yang menjembatani praktik ESG dengan strategi bisnis nasional. “Penghargaan ini memperkuat posisi CESGS sebagai pusat riset yang menghubungkan praktik ESG dengan strategi bisnis nasional. Kami berharap riset kami dapat memberikan dampak nyata bagi ekonomi dan masyarakat Indonesia,” ujarnya. Prof Iman juga merupakan Guru Besar UNAIR bidang Sustainability Accounting and Governance.

Isu keberlanjutan kian menonjol dalam dunia usaha, seiring meningkatnya perhatian perusahaan terhadap konsep Environmental, Social, and Governance (ESG), baik di tingkat global maupun di Indonesia. Namun, CESGS menilai masih terdapat kesalahpahaman di kalangan perusahaan yang menganggap ESG semata-mata menambah biaya tanpa manfaat. Berdasarkan data CESGS Intelligent, hanya 2% perusahaan terbuka di Indonesia yang mengadopsi Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) pada 2023. Kondisi ini dinilai menunjukkan ketertinggalan dalam mengintegrasikan ESG ke dalam strategi bisnis jangka panjang, yang berisiko membuat Indonesia tertinggal dalam pencapaian tujuan keberlanjutan global.

Di sisi lain, tantangan yang disoroti adalah minimnya pusat riset yang berfokus pada ESG. Dari 73 PUI-PT aktif di Indonesia, disebut belum ada yang secara khusus menempatkan ESG sebagai fokus utama. CESGS menyatakan hadir untuk mengisi kekosongan tersebut, sejalan dengan arah pembangunan yang menekankan penguatan kemandirian bangsa serta pengembangan ekonomi hijau dan biru.

Sejak berdiri pada 2020, CESGS berkomitmen menghubungkan isu lingkungan, sosial, dan tata kelola dengan kinerja keuangan perusahaan. Dalam lima tahun, CESGS mencatat telah mempublikasikan 398 artikel terindeks Scopus, dengan 84,2% di antaranya berada pada jurnal Q1–Q2. CESGS juga disebut pernah dipercaya sebagai konsultan ahli oleh Asian Development Bank, UNDP, serta perusahaan seperti Indosat, Astra International, dan PLN (Persero).

CESGS memaparkan fokus risetnya yang berkembang dari waktu ke waktu. Pada periode 2020–2022, riset berpusat pada pelaksanaan, tata kelola, dampak, dan pelaporan ESG. Selanjutnya pada 2023–2024, riset diarahkan pada praktik dan penilaian ESG berdasarkan standar serta lembaga pemeringkatan internasional. Pada fase transformasi ESG 2025–2026, CESGS menargetkan riset yang menghubungkan kondisi dan risiko iklim dengan keuangan perusahaan secara sistemik. Periode 2026–2027 direncanakan berfokus pada hubungan biodiversitas dan keuangan. Sementara pada 2028–2030, riset diarahkan untuk mengukur ketimpangan sosial serta dampaknya terhadap kinerja finansial perusahaan.

Dengan status sebagai PUI-PT, CESGS menyatakan komitmennya untuk mengembangkan riset ESG yang relevan secara global sekaligus berdampak bagi Indonesia. Prof Iman menegaskan CESGS akan memperkuat perannya dalam riset ESG guna mendukung keberlanjutan jangka panjang sektor bisnis nasional. “Kami berharap penelitian dan inovasi tersebut dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Melalui pendanaan ini, CESGS berharap dapat memperkuat kapasitas riset dan inovasi ESG di Indonesia, sekaligus membantu dunia usaha mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam model bisnis. CESGS juga menyatakan akan terus mengedukasi dan memfasilitasi perusahaan di Indonesia agar lebih siap menghadapi tantangan keberlanjutan yang semakin kompleks.