BERITA TERKINI
Likuiditas dan Modal Bank Masih Kuat, Permintaan Kredit Tertahan karena Sikap Wait and See

Likuiditas dan Modal Bank Masih Kuat, Permintaan Kredit Tertahan karena Sikap Wait and See

Industri perbankan nasional dinilai masih memiliki likuiditas dan permodalan yang kuat untuk mendukung ekspansi dunia usaha. Namun, pertumbuhan kredit hingga Desember 2025 tercatat masih berada di level single digit, seiring melemahnya permintaan kredit.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) tahun 2025, dari sisi likuiditas, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) menguat hingga 11,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, rasio loan-to-deposit ratio (LDR) terjaga di kisaran 84 persen yoy.

Dari sisi permodalan, industri perbankan juga tetap solid dengan capital adequacy ratio (CAR) berada di level 26 persen, jauh di atas ambang batas minimum yang ditetapkan regulator.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hery Gunardi mengatakan, secara fundamental, kondisi tersebut menunjukkan perbankan memiliki ruang yang memadai untuk menopang pertumbuhan kredit secara prudent dan berkelanjutan. Meski demikian, ia menegaskan pertumbuhan kredit secara tahunan hingga Desember 2025 masih single digit. Pernyataan itu disampaikan Hery dalam acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (20/2/2026).

BI mencatat perlambatan kredit saat ini salah satunya dipengaruhi faktor permintaan (demand). Hery sependapat dan menyebut akselerasi penyaluran kredit menghadapi tantangan, terutama dari sisi demand, seiring sikap wait and see dunia usaha serta daya beli yang belum sepenuhnya pulih di seluruh segmen.

Menurut catatan BI, permintaan kredit baru menurun di sebagian besar segmen. Penurunan tajam terjadi pada kredit konsumsi, dari 62,9 persen menjadi 13,4 persen. Pada segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), permintaan kredit baru turun dari 78,4 persen menjadi 58,8 persen. Di saat yang sama, rata-rata undisbursed loan meningkat menjadi 10,22 persen.

Hery menjelaskan, data tersebut menunjukkan fasilitas kredit yang telah disetujui bank dan likuiditas yang tersedia sebenarnya masih memadai, tetapi realisasi penarikan kredit tertahan. Kondisi itu mencerminkan sikap kehati-hatian dari dunia usaha maupun rumah tangga sebagai nasabah individu. Dengan kata lain, tantangannya bukan pada ketersediaan dana, melainkan pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan.

“Yang dibutuhkan bukan sekedar likuiditas tambahan, tetapi penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan,” kata Hery.

Di sisi lain, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada UMKM disebut mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan pada level yang lebih tinggi. Hal ini mengindikasikan tekanan arus kas pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih. Kombinasi pertumbuhan yang melemah dan risiko kredit yang meningkat, menurut Hery, menuntut pendekatan penyaluran kredit yang lebih selektif dengan berbasis mitigasi risiko.

Hery juga menyoroti bahwa pelemahan pertumbuhan kredit tidak terlepas dari perlambatan tiga sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), yakni manufaktur, perdagangan, dan pertanian. Ketiga sektor tersebut berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional sekaligus menyerap tenaga kerja dalam skala luas, sehingga perlambatan di sektor-sektor itu dinilai langsung berdampak pada aktivitas usaha dan kebutuhan pembiayaan.