BERITA TERKINI
China Sepakat dengan IMF: Konflik Timur Tengah Picu Risiko Ekonomi Global dan Ganggu Keamanan Energi

China Sepakat dengan IMF: Konflik Timur Tengah Picu Risiko Ekonomi Global dan Ganggu Keamanan Energi

Beijing—Pemerintah China menyatakan sependapat dengan penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa konflik di Timur Tengah telah memicu krisis pada ekonomi global dan mengganggu keamanan energi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan laporan IMF menunjukkan perang tidak hanya menimbulkan korban dan kerugian, tetapi juga berdampak serius terhadap perekonomian dunia dengan menghambat pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan. Ia menyebut perang tersebut sebagai sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Guo menegaskan komunitas internasional, terutama negara-negara kurang berkembang, tidak semestinya menanggung beban akibat konflik. Ia juga menyampaikan bahwa prioritas utama saat ini adalah mencegah kembalinya pertempuran, memastikan lalu lintas melalui Selat Hormuz tetap berjalan, serta memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk secepat mungkin. Menurutnya, langkah itu diperlukan untuk mencegah dampak yang lebih besar pada ekonomi global, keamanan energi, hingga risiko krisis kemanusiaan.

Sebelumnya, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan konflik Timur Tengah telah menimbulkan kesulitan besar di berbagai belahan dunia. Salah satu dampak negatif utama, menurutnya, adalah guncangan terhadap pasokan global yang menyebabkan berkurangnya distribusi minyak sebesar 13 persen dan gas alam cair (LNG) sebesar 20 persen per hari.

IMF memperkirakan gangguan pasokan tersebut dapat memicu penutupan kilang serta menimbulkan krisis bahan bakar dan pangan. Georgieva juga mengingatkan bahwa karena guncangan ini bersifat negatif terhadap pasokan, penyesuaian permintaan tidak dapat dihindari.

Dalam perhitungannya, IMF menyebut kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan inflasi global sebesar 40 basis poin dan menurunkan output global sekitar 0,1 hingga 0,2 persen.

Terkait pasokan energi, Georgieva menilai April berpotensi menjadi periode yang lebih sulit dibanding bulan sebelumnya. Ia menyebut Maret sudah menjadi bulan yang berat, namun April bisa lebih menantang karena kapal tanker yang berangkat sebelum 28 Februari telah tiba di tujuan, sementara tidak ada pengiriman baru yang akan datang.

Georgieva juga menyarankan negara-negara mengadopsi langkah penghematan energi, antara lain dengan membuat transportasi umum gratis atau mendorong kerja jarak jauh.

Dalam laporan tersebut, eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang disebut dimulai sejak serangan pada akhir Februari telah menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan LNG dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Situasi itu turut memengaruhi aktivitas ekspor dan produksi minyak di kawasan.

Disebutkan pula bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat pada Senin (13/4) mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi jalur perairan tersebut.