BERITA TERKINI
Cuaca Ekstrem Tekan Perikanan Laut dan Tambak, Pemantauan Real-Time Jadi Kunci Antisipasi

Cuaca Ekstrem Tekan Perikanan Laut dan Tambak, Pemantauan Real-Time Jadi Kunci Antisipasi

Industri perikanan laut dan tambak menjadi salah satu penopang penting perekonomian Indonesia. Sebagai negara maritim, banyak masyarakat menggantungkan penghidupan dari penangkapan ikan di laut maupun budidaya di tambak air payau. Namun, sektor ini sangat sensitif terhadap perubahan cuaca, terutama di tengah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim global.

Cuaca buruk seperti badai, hujan deras, angin kencang, hingga gelombang tinggi kian sulit diprediksi. Kondisi tersebut tidak hanya menurunkan produktivitas nelayan dan petambak, tetapi juga dapat mengancam keselamatan serta keberlanjutan usaha. Dalam situasi ini, pemantauan cuaca yang lebih akurat dan cepat menjadi kebutuhan untuk membantu pelaku usaha mengambil keputusan.

Salah satu teknologi yang disebut dapat mendukung kewaspadaan dan adaptasi adalah Automatic Weather Station (AWS). Perangkat ini memantau kondisi cuaca secara real-time dan menyediakan data yang dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan sebelum melaut atau mengelola tambak.

Dampak cuaca buruk pada perikanan laut

Nelayan termasuk kelompok yang paling rentan ketika cuaca ekstrem terjadi. Gelombang tinggi dan badai dapat menghambat aktivitas melaut, bahkan berisiko terhadap keselamatan jiwa. Sejumlah kecelakaan di laut disebut terjadi ketika nelayan tidak memperoleh informasi cuaca yang memadai sebelum berangkat.

Cuaca yang tidak bersahabat juga berdampak pada hasil tangkapan. Ketika nelayan tidak bisa berlayar secara rutin, pasokan ikan ke pasar menurun. Dampak lanjutan yang muncul adalah kenaikan harga dan terganggunya konsumsi masyarakat. Selain itu, badai atau angin kencang berpotensi merusak infrastruktur, termasuk kapal, jaring, dan fasilitas pelabuhan.

Perubahan suhu laut akibat fenomena iklim ekstrem turut mengganggu ekosistem. Pola migrasi ikan menjadi tidak menentu, sehingga nelayan semakin sulit memperkirakan lokasi tangkapan. Ketidakpastian ini menambah tekanan ekonomi bagi keluarga nelayan.

Dampak cuaca buruk pada tambak

Di sisi lain, petambak menghadapi risiko yang berbeda. Hujan lebat dan banjir dapat menyebabkan air tambak meluap, sehingga ikan atau udang budidaya keluar dan memicu kerugian. Curah hujan tinggi juga dapat menurunkan salinitas air, padahal kestabilan salinitas penting untuk menjaga kesehatan udang dan ikan air payau.

Suhu yang berubah-ubah dapat menimbulkan stres pada biota tambak dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Salah satu penyakit yang kerap muncul saat kondisi air berubah drastis adalah white spot pada udang. Hujan deras juga meningkatkan risiko masuknya limbah atau patogen melalui aliran air ke area tambak. Akibatnya, tingkat kematian ikan dan udang dapat meningkat, sementara biaya perawatan dan kebutuhan obat-obatan ikut bertambah.

Ketidakstabilan cuaca membuat hasil usaha tambak sulit diprediksi. Dalam kondisi tertentu, petambak kecil dapat mengalami kerugian besar hingga tidak mampu melanjutkan usaha karena kesulitan mengantisipasi cuaca buruk.

Peran AWS dalam membantu pengambilan keputusan

AWS merupakan perangkat otomatis yang mengukur berbagai parameter cuaca, seperti suhu, kelembaban, curah hujan, kecepatan dan arah angin, serta tekanan udara. Data yang terkumpul kemudian dikirim secara real-time melalui jaringan internet atau satelit.

Bagi sektor perikanan, ketersediaan data ini dapat membantu nelayan dan petambak meningkatkan kewaspadaan. Informasi cuaca yang lebih cepat dan akurat memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik, sehingga dampak cuaca buruk dapat diminimalkan.