Di tengah kondisi pasar yang sulit diprediksi dan bergejolak, dunia usaha di Da Nang mendorong pendekatan berbagi informasi dan kesulitan guna menjaga stabilitas rantai pasok. Sejumlah perusahaan memilih tidak membebankan seluruh biaya kepada mitra maupun pelanggan, melainkan mencari cara agar beban dapat ditanggung bersama demi menjaga keberlanjutan kerja sama.
Sejumlah pelaku usaha juga mengoptimalkan operasional dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mengelola pesanan secara lebih efisien. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mencari pesanan untuk pengiriman balik agar kendaraan tidak kembali dalam kondisi kosong, sehingga biaya logistik dapat ditekan.
Presiden Asosiasi Pengusaha Wanita Da Nang, Le Thi Nam Phuong, menilai banyak fluktuasi ekonomi saat ini dipicu faktor global yang berada di luar kendali perusahaan secara individual. Karena itu, ia menekankan pentingnya semangat berbagi dan saling pengertian antar pemangku kepentingan dalam rantai pasok sebagai kunci menjaga stabilitas pasar.
Menurut Phuong, semangat berbagi perlu dibangun dalam relasi antara pemasok dengan distributor tingkat pertama dan kedua, serta antara unit penjualan dengan konsumen. Ia menekankan bahwa praktik tersebut harus didasarkan pada empati dan keseimbangan kepentingan yang harmonis di antara semua pihak, sembari tetap memastikan kualitas barang dan jasa. Ia juga melihat pendekatan ini sebagai kontribusi komunitas bisnis dalam membangun lingkungan usaha yang stabil dan bertanggung jawab di Da Nang.
Lebih luas, praktik “berbagi kesulitan” dinilai mencerminkan budaya bisnis yang bersedia menerima penurunan keuntungan jangka pendek demi melindungi kerja sama jangka panjang. Ketika perusahaan memprioritaskan kepentingan bersama, tekanan dapat berkurang dan pasar dinilai menjadi lebih berkelanjutan.
Dari sisi pemerintah, dukungan dinilai menjadi faktor penting yang melengkapi kolaborasi antar pelaku usaha. Wakil Ketua Komite Rakyat Kota Da Nang, Tran Chi Cuong, menyatakan bahwa pada masa volatilitas pasar, peran asosiasi industri dan komunitas bisnis semakin penting sebagai saluran pertukaran informasi. Menurutnya, asosiasi membantu perusahaan memahami situasi secara cepat dan berkoordinasi untuk mencari solusi atas berbagai kendala.
Direktur Daiwa Vietnam Co., Ltd., Nguyen Van Phu, menyampaikan bahwa dukungan pemerintah yang tepat waktu membantu perusahaannya mengatasi sejumlah hambatan produksi. Ia mencontohkan ketika perusahaan menghadapi masalah pasokan bahan kimia, otoritas kota—termasuk Departemen Perindustrian dan Perdagangan Da Nang serta otoritas bea cukai—memberikan bantuan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Phu menyebut tanpa dukungan itu, perusahaan berisiko kekurangan bahan baku untuk produksi.
Rangkaian pengalaman tersebut menegaskan peran lembaga pemerintah dalam membantu dunia usaha melewati masa sulit. Pendekatan “berbagi kesulitan untuk berkembang bersama” dipandang bukan sekadar slogan, melainkan praktik yang bertumpu pada kerja sama antar perusahaan serta kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha.
Di tengah pasar yang bergejolak, Da Nang mendorong sinergi agar setiap pihak bersedia berbagi manfaat, bekerja sama mengatasi kesulitan, dan mengarah pada pembangunan berkelanjutan. Dengan langkah tersebut, ketahanan ekonomi lokal diharapkan menguat, sekaligus menjaga lingkungan bisnis Da Nang tetap stabil dan menarik dalam jangka panjang.