BERITA TERKINI
Di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Bank Sentral Malaysia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

Di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Bank Sentral Malaysia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

Bank Negara Malaysia (BNM) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Malaysia untuk 2026 ke kisaran 4% hingga 5% di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengguncang harga energi, pasar keuangan, dan stabilitas global.

Gubernur BNM Abdul Rasheed Ghaffour menyatakan ketahanan domestik dan struktur ekspor Malaysia yang terdiversifikasi menjadi fondasi penting dalam menghadapi tekanan eksternal. Pernyataan itu disampaikan saat ketidakpastian global meningkat akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

BNM menilai permintaan domestik tetap menjadi penopang utama. Peningkatan lapangan kerja, pertumbuhan upah, serta kebijakan pemerintah yang mendukung konsumsi rumah tangga turut memperkuat prospek pertumbuhan.

Di sisi inflasi, bank sentral memperkirakan tekanan harga tetap terkendali pada kisaran 1,5% hingga 2,5% meskipun harga minyak mentah meningkat. Salah satu faktor yang disebut menahan inflasi adalah kebijakan pemerintah Perdana Menteri Anwar Ibrahim yang mempertahankan harga bensin bersubsidi paling populer di Malaysia pada 1,99 ringgit per liter. Namun, pemerintah mengurangi kuota bulanan bahan bakar tersebut menjadi 200 liter dari sebelumnya 300 liter per warga.

Meski proyeksi ekonomi dinaikkan, BNM mengakui risiko dari ketidakpastian global masih tinggi. Konflik di Timur Tengah dinilai dapat memicu lonjakan harga komoditas dan inflasi, bergantung pada durasi dan intensitasnya. Karena itu, BNM menyatakan akan terus memantau perkembangan dan siap mengambil langkah jika volatilitas meningkat.

Optimisme BNM juga tercermin pada kinerja ringgit yang disebut menjadi salah satu mata uang terkuat di Asia dalam setahun terakhir, meskipun sempat melemah sejak perang dimulai pada 28 Februari. BNM menegaskan akan menjaga stabilitas pasar dan mengelola risiko volatilitas berlebihan.

Dari sisi kebijakan, BNM terakhir kali menurunkan suku bunga kebijakan semalam pada Juli 2025, yang menjadi pemangkasan pertama dalam lima tahun untuk mendukung pertumbuhan. Sebelumnya, pada Mei 2025, bank sentral juga menurunkan rasio cadangan wajib bank menjadi 1% dari 2% guna memberi fleksibilitas lebih besar dalam pengelolaan likuiditas di tengah volatilitas pasar keuangan. BNM menyatakan transmisi kebijakan moneter tetap berjalan tertib dan penyesuaian tersebut diharapkan memberi dukungan tambahan bagi perekonomian hingga 2026.