Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 2025 tercatat melambat dan berada di bawah capaian nasional. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kaltim, Edih Mulyadi, menyebut ekonomi Kaltim secara kumulatif (c-to-c) tumbuh 4,53 persen, lebih rendah 0,58 persen dibanding pertumbuhan nasional sebesar 5,11 persen.
“Di Kaltim sepertinya memang tumbuh lebih lambat dibanding nasional, karena hanya 4,53 persen secara c-to-c, sementara nasional 5,11 persen,” ujar Edih dalam konferensi pers di Kantor Kanwil DJPb Kaltim, Jumat, 27 Maret 2026.
Secara tahunan (y-o-y), pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2025 tercatat 5,04 persen. Namun, Edih menilai angka tersebut tetap mengindikasikan perlambatan jika dibandingkan periode sebelumnya.
Edih menjelaskan, salah satu faktor utama perlambatan adalah kontraksi pada sektor pertambangan dan penggalian. Sektor ini memiliki porsi besar dalam struktur ekonomi Kaltim, yakni lebih dari 30 persen, sehingga pelemahan di sektor tersebut berdampak signifikan terhadap kinerja ekonomi secara keseluruhan.
“Kalau sektor dengan porsi besar mengalami perlambatan, dampaknya pasti signifikan terhadap keseluruhan ekonomi,” kata Edih.
Selain pertambangan, sektor konstruksi juga disebut tidak seagresif tahun sebelumnya. Pada 2024, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mendorong pertumbuhan konstruksi secara masif. Namun pada 2025, alokasi anggaran untuk IKN disebut tidak lebih dari Rp14 triliun.
Edih juga menyoroti ketergantungan ekonomi Kaltim terhadap komoditas. Menurutnya, ketika harga maupun volume komoditas menurun, dampaknya langsung terasa terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ekonomi Kaltim masih banyak bergantung pada komoditas. Saat harga dan kuantitasnya turun, tentu berpengaruh besar terhadap pertumbuhan,” ucapnya.
Di sisi lain, inflasi turut menjadi faktor yang memengaruhi kondisi ekonomi makro daerah. Edih menyampaikan, secara bulanan harga-harga di Kaltim pada Januari 2026 naik tipis sekitar 0,04 persen dibanding Desember 2025. Sementara secara tahunan, inflasi tercatat 3,76 persen. Adapun sejak awal tahun hingga saat itu (y-t-d), inflasi disebut sekitar 0,04 persen.
Ia menambahkan, kenaikan harga dipengaruhi sejumlah komoditas pangan, antara lain beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, ikan segar, serta daging ayam ras. Kelompok transportasi juga turut menyumbang inflasi, terutama pada angkutan udara.
Meski pertumbuhan melambat, Edih menyebut beberapa indikator masih menunjukkan kinerja yang cukup baik. Salah satunya neraca perdagangan Kaltim yang mencatat surplus kuat pada Desember 2025. Saat itu, nilai ekspor disebut lebih dari 2.300 juta dolar AS, sedangkan impor sekitar 600 juta dolar AS.
“Pada Desember 2025 terjadi surplus yang sangat kuat, karena ekspor kita lebih dari 2.300 juta dolar AS, sedangkan impor hanya sekitar 600 juta dolar AS,” ujarnya.
Menurut Edih, perbandingan nilai ekspor dan impor Kaltim mencapai sekitar empat banding satu, yang menunjukkan pendapatan dari ekspor jauh lebih besar dibanding pengeluaran untuk impor. Selain itu, pengeluaran per kapita masyarakat Kaltim pada 2025 juga meningkat, dengan angka mencapai Rp14.254.000 per tahun.

