Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan kembali menguat pada kuartal pertama 2026. Perkiraan ini dinilai memberi ruang bagi para pembuat kebijakan untuk memantau dampak perang Iran terhadap perekonomian negara tersebut sebelum menentukan perlu tidaknya tambahan stimulus.
Berdasarkan median proyeksi para ekonom dalam survei Bloomberg menjelang rilis data resmi pada Kamis (16/4), Produk Domestik Bruto (PDB) China diprediksi tumbuh 4,8% secara tahunan. Angka itu menunjukkan akselerasi dari pertumbuhan 4,5% pada kuartal terakhir 2025, yang menjadi laju terlemah sejak China melakukan pembukaan kembali aktivitas setelah Covid pada akhir 2022.
Konflik antara AS-Israel melawan Iran sejauh ini dinilai hanya berdampak terbatas pada aktivitas ekonomi China. Hal itu disebut terkait langkah strategis Beijing dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat ketahanan energi dan mengisolasi perekonomian dari guncangan global. Selain itu, tekanan deflasi yang berlangsung selama bertahun-tahun dinilai turut meredam potensi lonjakan harga konsumen meski harga minyak mentah meningkat.
Di sisi lain, impor produk teknologi tinggi melonjak pada Maret, yang sebagian dikaitkan dengan peningkatan investasi kecerdasan buatan. Pada saat yang sama, surplus perdagangan barang China menyusut hampir 5% pada kuartal pertama dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dalam denominasi yuan.
Penyusutan surplus tersebut berpotensi mengurangi dukungan dari ekspor bersih terhadap pertumbuhan. Namun, permintaan global yang kuat terkait kecerdasan buatan disebut membantu menahan tekanan eksternal terhadap perusahaan-perusahaan China di tengah konflik Timur Tengah yang turut mengganggu ekonomi global.