BERITA TERKINI
Ekosistem Fintech Syariah Indonesia Peringkat Ketiga Terkuat Dunia, Literasi dan Aset Terus Naik

Ekosistem Fintech Syariah Indonesia Peringkat Ketiga Terkuat Dunia, Literasi dan Aset Terus Naik

Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam kekuatan ekosistem fintech syariah berdasarkan Global Islamic Fintech Report 2024/2025. Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di posisi ke-3 dari 82 negara, di bawah Arab Saudi dan Malaysia.

Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mirza Adityaswara mengatakan capaian itu menunjukkan daya saing dan potensi besar industri fintech syariah nasional, sekaligus menandai ekosistem yang kian matang. Menurutnya, kondisi tersebut turut mendukung perluasan layanan dan inovasi yang berbasis prinsip syariah.

Mirza juga menilai pertumbuhan industri jasa keuangan syariah tidak terlepas dari meningkatnya literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat. Mengacu pada hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025, indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,4%, naik dari 39% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan syariah mencapai 13,4%, meningkat dari 12,8%.

Ia menyebut peningkatan pemahaman dan akses terhadap layanan keuangan syariah menjadi modal bagi industri untuk tumbuh lebih berkelanjutan, memperluas jangkauan layanan, serta memperkuat keberadaan keuangan syariah di masyarakat.

Dari sisi kinerja, total aset fintech syariah Indonesia per Juni 2025 tercatat Rp2.972,95 triliun. Aset tersebut terdiri atas perbankan syariah sebesar Rp967,33 triliun, pasar modal syariah Rp1.828,25 triliun, dan industri keuangan non-bank Rp177,32 triliun.

Pada sektor perbankan syariah, aset tumbuh 7,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun mencapai Rp738 triliun, tumbuh 6,98% yoy. OJK juga mencatat indikator permodalan, profitabilitas, likuiditas, serta kualitas pembiayaan industri keuangan syariah menunjukkan tren yang positif.

Kontribusi terbesar terhadap total aset datang dari pasar modal syariah dengan nilai Rp1.828 triliun, naik 8,4% yoy. Aset ini mencakup sukuk negara, sukuk korporasi, dan reksa dana syariah.

Sementara itu, pada sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun syariah, total aset mencapai Rp59 triliun atau tumbuh 6,2% yoy. Rinciannya, perasuransian syariah memiliki aset Rp47,5 triliun, mengelola 3,6 juta polis, serta portofolio investasi yang mencapai Rp37 triliun.