BERITA TERKINI
Ekspor Thanh Hoa Tumbuh, Dunia Usaha Waspadai Gejolak Global dan Kenaikan Biaya Logistik

Ekspor Thanh Hoa Tumbuh, Dunia Usaha Waspadai Gejolak Global dan Kenaikan Biaya Logistik

Provinsi Thanh Hoa mencatat kinerja ekspor yang meningkat pada awal 2026, di tengah situasi perdagangan internasional yang kian bergejolak. Pemerintah daerah dan pelaku usaha disebut telah menjalankan berbagai solusi untuk mendorong ekspor sekaligus memperluas pasar.

Dalam dua bulan pertama 2026, nilai ekspor Thanh Hoa mencapai lebih dari US$1,1 miliar, naik 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Maret, ekspor diperkirakan mencapai US$464 juta, meningkat 4,5% dibandingkan bulan sebelumnya. Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif bagi target ekspor provinsi sebesar US$8,5 miliar pada 2026.

Namun sejak awal Maret 2026, kondisi global dinilai semakin kompleks dan sulit diprediksi. Konflik di Timur Tengah memicu guncangan pada perdagangan global, mendorong kenaikan harga energi dan biaya logistik, serta meningkatkan biaya produksi untuk barang impor dan ekspor. Dampak tersebut juga terasa di Thanh Hoa, terutama pada sektor-sektor utama seperti tekstil, alas kaki, pertanian, kehutanan, perikanan, dan produk kayu.

Saat ini, pasar ekspor utama bagi bisnis di Thanh Hoa meliputi Amerika Serikat, Uni Eropa (UE), Jepang, dan Korea Selatan. Sementara itu, pasar Timur Tengah hanya menyumbang porsi kecil. Meski demikian, pelaku usaha menilai ketidakstabilan di Timur Tengah tetap berdampak luas karena terkait erat dengan jalur pelayaran global dan rantai pasokan energi. Akibatnya, biaya transportasi, asuransi kargo, dan harga bahan bakar berfluktuasi signifikan. Waktu pengiriman ke Eropa juga berpotensi lebih lama dari rencana, sehingga menambah tekanan pada pemenuhan kontrak dan arus kas perusahaan.

Tu Thanh Co., Ltd. di distrik Hac Thanh, yang mengekspor lebih dari 400 kontainer produk pertanian per tahun—terutama nanas—ke Rusia, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa, menyebut mulai memperluas ekspor ke Timur Tengah dalam dua tahun terakhir. Pasar tersebut kini menyumbang sekitar 20% dari ekspor perusahaan. Sejak akhir Februari 2026, ketika konflik meletus di Timur Tengah, perusahaan menghadapi kendala kenaikan biaya logistik dan kekurangan kontainer, yang memengaruhi jadwal pengiriman kepada mitra.

Direktur Tu Thanh Co., Ltd., Dong Thi Tuyet Anh, mengatakan perusahaan meninjau kembali rantai pasok, bekerja sama dengan unit logistik untuk memperbarui jadwal pengiriman, serta menyesuaikan metode pengiriman secara fleksibel, termasuk mempertimbangkan pengalihan rute untuk mengurangi risiko.

Dari sektor tekstil, Direktur Hue Anh Co., Ltd. di distrik Bim Son, Hoang Thi Kim Dung, menyampaikan industri tekstil dan garmen menghadapi tiga tantangan utama: meningkatnya biaya transportasi, risiko penurunan permintaan konsumen, serta fluktuasi pesanan. Menurutnya, perusahaan berupaya mengoptimalkan biaya produksi, bernegosiasi dengan mitra untuk berbagi biaya yang timbul, menyesuaikan rencana pengiriman, serta mencari dan memperluas pasar baru. Fleksibilitas produksi dan diversifikasi pasar dinilai penting untuk menjaga pesanan dan mempertahankan lapangan kerja.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, pertumbuhan bisnis dinilai tidak cukup hanya bertumpu pada penandatanganan kontrak lebih awal. Diperlukan kapasitas internal yang kuat dan kemampuan adaptasi cepat terhadap perubahan. Sektor industri dan perdagangan setempat merekomendasikan asosiasi dan pelaku usaha untuk mendiversifikasi sumber pasokan, serta mencari dan memperluas pasar baru.

Selain itu, pelaku usaha impor dan ekspor diminta memberi perhatian khusus pada klausul kontrak terkait logistik, transportasi, pengiriman, dan asuransi. Kontrak transportasi disarankan mencakup ketentuan keadaan kahar (force majeure), kompensasi, serta alokasi biaya jika terjadi risiko. Asuransi komprehensif juga dianjurkan untuk mengurangi potensi kerugian bila terjadi insiden di pasar impor. Perusahaan yang bergantung pada rantai pasokan internasional—seperti makanan laut, tekstil, dan produk pertanian—diimbau proaktif mengumpulkan informasi dan memantau perkembangan pasar agar dapat menyesuaikan rencana produksi secara fleksibel.

Perwakilan Asosiasi Bisnis Provinsi menyatakan bahwa tekanan kenaikan harga akibat biaya transportasi dan bahan baku membuat perusahaan perlu mengoptimalkan operasional, menekan biaya, meningkatkan kemampuan adaptasi, dan memperkuat manajemen risiko. Pelaku usaha juga didorong memanfaatkan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) untuk memperluas pasar, mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, secara bertahap meningkatkan kemandirian bahan baku, mengendalikan kualitas produk, serta meningkatkan efisiensi. Dengan fondasi tersebut, sektor manufaktur diharapkan dapat bereaksi lebih cepat, beradaptasi, dan menjaga pertumbuhan produksi sepanjang 2026.