Mataram — Di tengah laju digitalisasi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Lombok dituntut beradaptasi agar tetap kompetitif. Salah satu tantangan yang kerap muncul adalah memasarkan produk secara kreatif dan menarik, terutama melalui materi visual untuk promosi dan branding.
Canva, platform desain yang banyak digunakan pelaku usaha, menghadirkan fitur Studi Kasus yang ditujukan sebagai sarana belajar berbasis contoh nyata. Melalui fitur ini, pengguna dapat melihat bagaimana strategi visual diterapkan untuk menjawab tantangan bisnis, mulai dari identifikasi masalah, langkah solusi, hingga hasil yang dicapai.
Fitur Studi Kasus di Canva merupakan koleksi template interaktif yang memuat kisah nyata perusahaan atau organisasi dalam menyelesaikan persoalan tertentu. Penyajiannya dirancang sederhana namun menonjolkan poin-poin utama: tantangan, strategi yang dipilih, dan capaian yang diperoleh. Format visual yang ringkas membuatnya mudah dipahami, termasuk bagi pelaku UMKM yang baru merintis.
Bagi UMKM di Lombok—yang dikenal dengan kerajinan, kuliner, dan produk berbasis pariwisata—kebutuhan promosi dan penguatan merek menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Tenun ikat, mutiara, kopi, hingga olahan hasil laut disebut memiliki potensi besar, namun tidak sedikit pelaku usaha yang masih terkendala dalam menyajikan identitas produk secara konsisten dan meyakinkan di kanal digital.
Dalam konteks itu, Studi Kasus dapat menjadi referensi untuk mengembangkan cara bercerita (storytelling) melalui desain. Pengusaha kopi, misalnya, dapat mempelajari pendekatan visual yang menampilkan cerita kebun, proses panen, hingga pengalaman menikmati kopi. Pengrajin tenun dapat mengambil inspirasi dari cara merek fesyen mengangkat budaya lokal dalam tampilan yang lebih modern. Sementara pelaku wisata dapat meniru strategi penyajian narasi visual yang digunakan destinasi terkenal.
Sejumlah manfaat yang disebut dapat diperoleh UMKM dari fitur ini antara lain belajar dari praktik nyata tanpa harus menebak strategi, meningkatkan tampilan branding agar lebih profesional, serta memanfaatkan template yang dapat diedit sehingga pengguna cukup menyesuaikan dengan data dan cerita usaha masing-masing. Selain itu, format studi kasus dinilai berguna untuk memperkuat presentasi bisnis, misalnya saat mengajukan pendanaan atau mengikuti pameran produk. Dengan visual yang rapi dan storytelling yang kuat, daya saing produk lokal juga diharapkan meningkat.
Selain mempelajari contoh yang tersedia, pelaku UMKM juga dapat membuat studi kasus sendiri di Canva menggunakan template yang ada. Dengan langkah tersebut, pelaku usaha dapat menyusun laporan bisnis atau presentasi produk secara lebih terstruktur tanpa memerlukan biaya besar.
Canva juga menampilkan studi kasus dari berbagai industri. Contohnya, ada restoran yang menggunakan desain untuk memperkuat citra menu sehat, serta organisasi pendidikan yang menyajikan data hasil program sosial dalam bentuk infografis. Contoh-contoh ini dapat dijadikan rujukan agar pelaku usaha fokus pada strategi yang telah terbukti efektif dan menghindari kesalahan umum.
Potensi produk lokal Lombok dinilai besar, namun untuk menjangkau pasar yang lebih luas dibutuhkan kemasan visual yang setara dengan standar merek yang lebih mapan. Studi Kasus di Canva diposisikan sebagai jembatan pembelajaran, agar pelaku UMKM dapat mengadaptasi strategi visual global ke konteks lokal—misalnya menampilkan tenun dengan desain modern tanpa meninggalkan motif Sasak, atau memasarkan kopi Lombok dengan narasi visual yang menonjolkan keindahan alam tempat budidayanya.
Melalui fitur tersebut, pelaku UMKM di Lombok disebut memiliki peluang untuk memperkuat branding, meningkatkan kualitas presentasi, dan memperluas jangkauan pasar dengan pendekatan desain yang lebih terarah.

