BERITA TERKINI
Grab Tegaskan Tak Ada Pembicaraan Aktif dengan GoTo, Spekulasi Akuisisi Kuartal II 2025 Mereda

Grab Tegaskan Tak Ada Pembicaraan Aktif dengan GoTo, Spekulasi Akuisisi Kuartal II 2025 Mereda

Grab Holdings menyatakan tidak sedang melakukan pembicaraan aktif dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk terkait rencana merger maupun akuisisi. Pernyataan ini meredakan spekulasi yang sempat berkembang bahwa perusahaan asal Singapura tersebut menargetkan penyelesaian kesepakatan akuisisi GoTo pada kuartal kedua 2025.

Manajemen Grab menegaskan para pihak tidak terlibat dalam diskusi apa pun saat ini dan perusahaan belum menandatangani perjanjian yang bersifat mengikat. Pernyataan tersebut dikutip Bloomberg pada 9 Juni 2025.

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan Grab menargetkan kesepakatan merger dengan valuasi GoTo mencapai 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 114 triliun. Namun, target penyelesaian pada kuartal kedua 2025 tidak terealisasi, di tengah pembicaraan yang disebut telah berlangsung hampir satu dekade.

Dari pihak GoTo, Corporate Secretary RA Koesoemohadiani menyampaikan tidak ada perubahan informasi material terkait perusahaan. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juni 2025, ia menyatakan status informasi tetap sama seperti yang telah disampaikan pada 4 Februari, 19 Maret, dan 8 Mei 2025.

“Pada dasarnya perseroan tidak dapat memberikan komentar terhadap spekulasi yang beredar di pasar,” tulis Koesoemohadiani. Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada kesepakatan dari berbagai tawaran bisnis yang diterima perusahaan.

Koesoemohadiani sebelumnya menyebut GoTo menerima sejumlah penawaran dari beberapa pihak, tanpa merinci identitasnya. Manajemen menyatakan evaluasi dilakukan untuk meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, dengan mempertimbangkan kepentingan mitra pengemudi, UMKM, pelanggan, dan karyawan.

Dengan tidak berlanjutnya spekulasi akuisisi, peta persaingan layanan digital di Indonesia cenderung bertahan. Kondisi ini membuat persaingan antara dua platform utama tetap berjalan, yang selama ini menjadi salah satu faktor pendorong inovasi layanan berbasis aplikasi.

Di sisi lain, isu persaingan usaha turut menjadi perhatian. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan akan meneliti risiko dari potensi penggabungan dan mendorong konsultasi sebelum transaksi dilakukan. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama KPPU, Deswin Nur, mengatakan, “Kami berharap para pihak yakin transaksinya tidak berdampak, atau mereka dapat berkonsultasi ke KPPU sebelum transaksi dilaksanakan,” seperti dikutip Tempo pada 12 Mei 2025.

Kekhawatiran tersebut muncul karena GoTo dan Grab disebut menguasai hampir seluruh pasar ride-hailing dan food delivery di Indonesia. Jika bergabung, keduanya berpotensi membentuk entitas dominan di sektor transportasi online dan layanan antar makanan.

Dalam perkembangan lain, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membantah keterlibatan dalam struktur kesepakatan yang sempat dikabarkan. Managing Director Investment Danantara Indonesia, Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengatakan belum ada pembicaraan mengenai investasi di GoTo maupun Grab.

“Saat ini belum ada pembicaraan terkait hal tersebut,” kata Stefanus dalam keterangan tertulis kepada Tempo pada 9 Juni 2025. Ia menambahkan Danantara tetap terbuka terhadap peluang investasi yang sejalan dengan misi memperkuat sektor strategis dan meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional, dengan proses evaluasi menyeluruh dan penerapan prinsip manajemen risiko.