Pemasaran dinilai memegang peran penting dalam proses hilirisasi, termasuk bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Seiring perkembangan zaman, orientasi pemasaran tidak lagi berhenti pada penyediaan produk atau layanan, tetapi juga berkembang untuk membentuk dan memelihara hubungan (relationship) yang berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Prof Jono Mintarto Munandar, dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University yang digelar secara daring pada Kamis (26/6).
Prof Jono menjelaskan, konsep pemasaran telah berevolusi dari pendekatan klasik 4P—price, place, product, promotion—kemudian berkembang menjadi 7P dengan penambahan people, process, dan physical evidence. Menurutnya, perluasan tersebut berlanjut hingga menjadi 10P dengan tambahan prestige touchpoint, partnership, dan preservation.
Ia menerangkan, prestige touchpoint merujuk pada penciptaan pengalaman interaksi yang bernilai simbolis dan prestisius. Contohnya, melalui tour guide dan special event yang bertujuan menciptakan interaksi eksklusif serta memperkuat citra merek premium. Pendekatan ini dapat diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi canggih seperti robotik dalam pelayanan maupun strategi berbasis pengalaman, yang disebutnya dapat memperkuat kecintaan konsumen terhadap merek.
Sementara itu, partnership menekankan kolaborasi aktif antara perusahaan dan konsumen. Menurut Prof Jono, langkah ini dapat dilakukan melalui penyesuaian produk dan layanan sesuai preferensi individu, serta komunikasi pemasaran berbasis persetujuan untuk membangun kepercayaan.
Adapun preservation, kata dia, menandai tuntutan agar pemasaran masa kini ikut menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab kolektif yang berlandaskan etika universal. Dalam kerangka tersebut, perluasan konsep pemasaran menuju 10P bertumpu pada landasan etika yang mencakup hubungan sosial dan alam. Ia menambahkan, dalam pandangan agama—Islam misalnya—landasan itu juga terkait hubungan dengan Tuhan melalui prinsip kehalalan, keadilan, dan tanggung jawab moral.
Untuk menopang fondasi etika dalam strategi pemasaran, Prof Jono menilai penting menggali kearifan lokal serta keyakinan atau ilmu agama sebagai pijakan membangun etika, termasuk dengan mengembangkan konsep “nusantaranomics”.
Ia juga menekankan pentingnya relationship yang berkelanjutan sebagai dasar keberhasilan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Menurutnya, hubungan yang terjaga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kerja sama sosial, serta mendukung kelestarian alam.

