Pergerakan harga emas diperkirakan masih bergejolak menjelang perdagangan Sabtu (14/2/2026), dipengaruhi dinamika pasar global serta sentimen ekonomi makro terbaru.
Pada perdagangan terakhir, harga emas dunia sempat tertekan hingga turun ke bawah level US$5.000 per ons. Pelemahan ini terjadi setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang kuat, yang mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski demikian, harga sempat mengalami rebound tipis seiring aksi bargain hunting pelaku pasar setelah penurunan tajam. Analis menilai pemulihan tersebut menunjukkan adanya minat beli teknikal pada level harga yang lebih rendah, namun pergerakan emas masih berada di bawah level resistance jangka pendek sehingga volatilitas dinilai tetap tinggi.
Arah pergerakan berikutnya dinilai sangat bergantung pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan dalam beberapa hari mendatang. Data besar seperti Consumer Price Index (CPI) berpotensi mengubah ekspektasi suku bunga dan memengaruhi arah pasar global.
Di sisi lain, sejumlah proyeksi jangka menengah hingga panjang masih cenderung bullish. Prediksi tersebut memperkirakan harga emas global berpeluang stabil atau meningkat sepanjang Februari 2026, seiring permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global. Model perkiraan harga juga menilai perdagangan XAU/USD berpotensi bergerak dalam rentang yang fluktuatif sepanjang bulan ini.
Di pasar domestik, harga emas batangan di Indonesia diperkirakan menyesuaikan dengan dinamika global. Investor dan kolektor disarankan memantau rilis inflasi AS dan kekuatan dolar AS, dua faktor yang kerap menjadi penentu utama sentimen harga emas dalam jangka pendek.

