BERITA TERKINI
Hotel Cari Pasar Baru untuk Redam Dampak Efisiensi Anggaran Pemerintah

Hotel Cari Pasar Baru untuk Redam Dampak Efisiensi Anggaran Pemerintah

Pelaku industri perhotelan melakukan berbagai penyesuaian untuk menyiasati dampak pemangkasan anggaran pemerintah yang diterapkan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD. Kebijakan ini dinilai berpengaruh pada operasional hotel, terutama hotel berbintang yang lebih dari 50 persen pasarnya berasal dari segmen pemerintah.

CEO Azana Hospitality, Dicky Sumarsono, mengakui efisiensi anggaran pemerintah berdampak pada sektor perhotelan. Namun, ia menilai besarnya dampak tersebut tidak sebesar yang kerap dipersepsikan.

Berdasarkan pemantauan terhadap lebih dari 80 hotel dalam jaringan Azana, Dicky menyebut hanya empat hotel yang tidak mencapai target. Ia menekankan bahwa keberlanjutan bisnis hotel juga ditentukan faktor lain, seperti strategi pemasaran, inovasi layanan, pemahaman atas prioritas pelanggan saat ini, serta daya beli masyarakat.

Menurut Dicky, pasar industri hotel tidak hanya bergantung pada pemerintah. Segmen wisatawan domestik dan mancanegara, acara korporat, serta perjalanan bisnis dinilai tetap menjadi kontributor utama terhadap tingkat hunian. Karena itu, Azana mendorong diversifikasi pasar agar tidak bertumpu pada satu sektor.

Azana, kata Dicky, menerapkan strategi optimalisasi pendapatan dengan memperluas pangsa pasar melalui segmen korporat, leisure, dan komunitas. Selain itu, perusahaan mengoptimalkan pendapatan per available space dengan mengonversi ruang-ruang kosong menjadi venue multifungsi, seperti co-working space, office rental, wedding venue, private dining room, hingga kegiatan khusus keagamaan.

Dari sisi digital, Azana menjalankan strategi harga dinamis mengikuti tren pasar serta meningkatkan visibilitas di Online Travel Agency (OTA). Perusahaan juga memperkuat kampanye pemasaran digital, termasuk kolaborasi dengan travel influencer dan content creator untuk memperluas jangkauan pasar.

Dicky juga menyebut pengembangan produk dan layanan baru di bidang Food and Beverage (F&B) sebagai bagian dari upaya menjangkau pasar baru. Beberapa di antaranya meliputi bisnis hampers, outside catering, membership breakfast and exclusive dining experience, private chef dinner, serta limited dining package untuk segmen premium.

Dengan strategi tersebut, Dicky menyatakan Azana tetap optimistis industri perhotelan dapat bertahan dan berkembang. Ia menyebut fokus perusahaan diarahkan pada pergeseran pasar, diversifikasi pendapatan, efisiensi operasional, penguatan kualitas layanan, penambahan nilai pengalaman pelanggan, serta kemitraan dengan berbagai pihak.

Dampak pemangkasan anggaran terhadap sektor perhotelan juga diakui Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Solo, Joko Sutrisno. Meski demikian, ia melihat peluang yang dapat digali melalui penyelenggaraan berbagai event di Kota Solo.

Menurut Joko, event seperti konser musik atau kolaborasi dengan berbagai pihak dapat menjadi cara meningkatkan pendapatan karena mendorong kedatangan tamu untuk menginap. Ia menilai kolaborasi antara sektor perhotelan dan pemerintah diperlukan untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan event-event tersebut.