Pasar saham pada perdagangan hari ini masih dinilai berisiko menghadapi koreksi di tengah sentimen negatif bursa global. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan turut membuka peluang meningkatnya inflasi global, terutama jika lonjakan harga energi berlanjut.
Dari sisi global, konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran disebut memasuki fase baru pada pekan kelima. Peningkatan risiko invasi darat dinilai memicu gejolak protes sosial di domestik AS, seiring dorongan agar konflik segera diselesaikan. Dalam situasi tersebut, bursa global bergerak melemah karena kekhawatiran dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi global. Pelaku pasar juga cenderung mengambil sikap wait and see sambil menanti rilis data ekonomi pada pekan ini.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki peluang bergerak positif. Peluang tersebut didukung komitmen pemerintah untuk melakukan sejumlah langkah penguatan ekonomi, serta upaya reformasi pasar modal yang terus berlangsung. Namun, pasar juga masih menanti likuiditas kembali ke level sebelum Ramadan.
Sementara itu, perhatian pelaku pasar turut tertuju pada pergerakan emiten terkait pertambangan yang disebut sebagai “Duo Alamtri”, yakni ADRO dan ADMR. Penurunan harga batu bara metalurgi global yang sebelumnya menjadi faktor pelemahan kinerja keduanya kini terpantau mulai stabil. Katalis berikutnya yang dinantikan adalah kontribusi smelter aluminium ADMR terhadap kinerja tahun ini, serta rencana buyback saham ADRO hingga Rp4 triliun yang berpotensi menjadi penopang sentimen positif.
Disclaimer