BERITA TERKINI
IHSG Dibuka Turun 1,08% ke 7.020,53 di Tengah Ketidakpastian Konflik AS–Iran

IHSG Dibuka Turun 1,08% ke 7.020,53 di Tengah Ketidakpastian Konflik AS–Iran

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (30/3) seiring sentimen negatif yang melanda bursa Asia. Tekanan pasar dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang mendorong investor kembali menghindari aset berisiko.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun 76,53 poin atau 1,08% ke level 7.020,53. Indeks LQ45 juga terkoreksi 1,53% ke posisi 707,96.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai kondisi pasar masih dibayangi ketidakpastian global yang tinggi. Ia menyebut pasar saat ini sangat dipengaruhi perkembangan headline konflik AS–Iran, serta menyoroti sejumlah agenda data dan kebijakan yang dinanti pelaku pasar.

“Kiwoom Research ingatkan para investor untuk masih lebih banyak menahan diri, wait and see menunggu perkembangan perang AS-Iran, serta data payroll AS dan data Inflasi Indonesia, serta keputusan mitigasi risiko krisis BBM yang sedianya dirilis pemerintah pekan ini,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Menurut Liza, konflik AS–Iran masih menunjukkan potensi eskalasi. Penundaan serangan oleh Presiden AS Donald Trump dinilai belum cukup meredakan kekhawatiran, karena risiko penambahan hingga 10.000 pasukan AS masih terbuka.

Di tengah upaya diplomatik, Pakistan dikabarkan muncul sebagai mediator dengan proposal perdamaian 15 poin. Namun, respons Iran disebut masih terbatas, antara lain mengizinkan 20 kapal melintas Selat Hormuz sambil tetap menolak proposal AS. Konflik yang memasuki pekan kelima ini juga membuat sebagian besar tanker belum dapat melintas secara normal, sementara serangan terhadap infrastruktur energi dilaporkan masih terjadi.

Liza juga menyoroti dinamika regional lain, termasuk upaya Uni Emirat Arab (UEA) membentuk Pasukan Keamanan Hormuz yang disebut menghadapi resistensi dari sekutu AS dan berpotensi diveto Rusia serta China. Sementara itu, Arab Saudi mencoba mengalihkan ekspor melalui Laut Merah, meski langkah tersebut dinilai belum mampu menutup gangguan pasokan global sepenuhnya.

Dari sisi politik domestik AS, sentimen pasar turut dibebani oleh gerakan protes “No Kings” yang disebut berlangsung di lebih dari 3.000 titik dengan partisipasi sekitar 9 juta orang. Aksi tersebut menolak berbagai kebijakan Presiden Trump, termasuk terkait perang Iran, sehingga menambah ketidakpastian arah kebijakan ekonomi.

“Dalam situasi seperti ini, hampir tidak ada aset yang benar-benar aman. Bahkan US Treasury, Yen Jepang, dan emas tidak mampu menjadi safe haven,” kata Liza. Kondisi itu, menurutnya, membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Ketidakpastian geopolitik juga menjaga harga minyak dunia tetap tinggi. Brent dan WTI disebut bertahan di atas 100 dolar AS per barel, dipengaruhi penutupan efektif Selat Hormuz yang sebelumnya mengalirkan 15–20 juta barel per hari.

Upaya mitigasi seperti optimalisasi pipa East-West Arab Saudi berkapasitas 7 juta barel per hari atau ekspor melalui Yanbu dinilai belum cukup menutup gangguan pasokan. UBS memperkirakan dalam skenario ekstrem, harga minyak dapat melonjak hingga 150 dolar AS per barel, yang berisiko mendorong inflasi global di atas 4% serta menambah risiko resesi di AS dan Eropa.

Dari dalam negeri, Iran disebut telah mengizinkan dua kapal tanker Pertamina, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, untuk keluar dari Selat Hormuz setelah komunikasi intensif dengan pemerintah Indonesia. Namun, keberangkatan masih menunggu penyelesaian teknis terkait asuransi dan kesiapan kru.

Meski kapasitas kedua kapal mencapai 2–2,5 juta barel, volume tersebut disebut hanya mencukupi sekitar 1–1,5 hari kebutuhan BBM nasional. Situasi ini dinilai menunjukkan rapuhnya ketahanan energi Indonesia apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung berkepanjangan.

Tekanan di pasar saham terjadi seiring pelemahan bursa global pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (27/03), bursa Eropa ditutup melemah dengan Euro Stoxx 50 turun 1,56%, FTSE 100 melemah 0,05%, DAX Jerman turun 1,38%, dan CAC 40 Prancis melemah 0,87%.

Di AS, indeks utama juga kompak terkoreksi. Dow Jones turun 1,73% ke 45.166,64, S&P 500 melemah 1,67% ke 6.368,85, dan Nasdaq turun 1,93% ke 23.132,77.

Sementara di Asia pada pembukaan perdagangan hari ini, sejumlah indeks mencatat pelemahan tajam, antara lain Nikkei anjlok 4,53%, Hang Seng turun 1,71%, Shanghai melemah 0,80%, dan Strait Times terkoreksi 0,29%.