Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa diperkirakan bergerak variatif di tengah ekspektasi pelaku pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, akan tetap bersikap dovish di tengah ketidakpastian konflik antara AS dan Iran.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 31,32 poin atau 0,44 persen ke posisi 7.122,99. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan naik 3,16 poin atau 0,44 persen ke posisi 720,65.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai secara teknikal IHSG berpotensi melemah terbatas dengan area support dan resistance di kisaran 7.000–7.240.
Dari luar negeri, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan ekspektasi inflasi AS dalam jangka panjang terlihat terkendali. Namun, The Fed disebut terus memantau dampak perang antara AS dan Israel dengan Iran.
Pernyataan tersebut dipandang memberi keyakinan kepada pelaku pasar bahwa inflasi belum tentu meningkat, sehingga tidak serta-merta mendorong The Fed menaikkan suku bunga, sebagaimana sempat dikhawatirkan sebelumnya.
Meski demikian, kenaikan harga minyak masih menjadi perhatian. Pelaku pasar disebut tetap khawatir karena harga minyak terus naik dan membentuk level baru, dengan ruang kenaikan yang hingga saat ini telah mencapai 90 persen.
Dari sisi geopolitik, Mesir, Pakistan, dan Turki menyatakan Presiden AS Donald Trump harus mengakhiri konflik. Iran, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, menilai tuntutan yang disampaikan kepada Iran terlalu berlebihan dan tidak logis. Nico juga menyoroti ketidakjelasan pihak yang menjadi negosiator dalam diskusi terkait permintaan tersebut.
Di sisi lain, para pemimpin Houthi di Yaman disebut tengah mempertimbangkan serangan yang lebih agresif. Eskalasi perang dinilai berpotensi bertambah cepat apabila semua pihak tidak menahan diri.
Dari dalam negeri, pemerintah dikabarkan akan segera mengumumkan paket kebijakan untuk meredam dampak dinamika global terhadap ekonomi domestik. Kebijakan yang disiapkan meliputi work from home (WFH) terbatas, penyesuaian anggaran, dan implementasi program B-50, yang akan dijelaskan dalam konferensi pers pada 31 Maret 2026.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah penerapan WFH satu hari per pekan bagi aparatur sipil negara (ASN) dan sebagian sektor swasta untuk mengurangi konsumsi BBM. Namun, kebijakan ini tidak berlaku untuk sektor pelayanan, industri, dan perdagangan.
Nico menilai WFH dapat menekan konsumsi BBM dalam jangka pendek, tetapi dampaknya terhadap produktivitas serta sektor pendukung seperti transportasi dan makanan-minuman perlu dicermati.
Sementara itu, program B-50 dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan impor energi, meski pelaksanaannya membutuhkan kesiapan industri dan pasokan bahan baku. Penyesuaian anggaran disebut mencerminkan ruang fiskal yang mulai dijaga ketat, sehingga belanja pemerintah ke depan kemungkinan lebih selektif.
Secara keseluruhan, Nico menilai paket kebijakan tersebut bersifat defensif untuk menjaga stabilitas, namun efektivitasnya akan sangat bergantung pada eksekusi dan kondisi global ke depan.
Di pasar global, bursa saham Eropa pada perdagangan Senin (30/3/2026) kompak menguat. Euro Stoxx 50 naik 0,70 persen, FTSE 100 Inggris menguat 1,61 persen, DAX Jerman naik 1,18 persen, dan CAC Prancis menguat 0,92 persen.
Sementara itu, Wall Street bergerak variatif pada Senin (30/3/2026). Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,11 persen ke 45.216,14, indeks S&P 500 turun 0,39 persen ke 6.343,72, dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,78 persen ke 25.953,38.
Pada perdagangan regional Asia pagi ini, indeks Nikkei turun 21,35 poin atau 0,04 persen ke 51.864,50. Indeks Shanghai naik 21,05 poin atau 0,54 persen ke 3.944,33, Hang Seng menguat 126,71 poin atau 0,51 persen ke 24.877,50, dan Strait Times naik 12,16 poin atau 0,25 persen ke 4.909,42.