BERITA TERKINI
IHSG Ditutup Melemah, Pasar Cermati Risiko Ekonomi Domestik dan Gejolak Global

IHSG Ditutup Melemah, Pasar Cermati Risiko Ekonomi Domestik dan Gejolak Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah sepanjang perdagangan hari ini. Mengacu data RTI Business, IHSG ditutup melemah 0,08 persen atau turun 5 poin ke level 7.091,67.

Pergerakan saham didominasi penurunan. Sebanyak 403 saham tercatat melemah, 271 saham menguat, dan 149 saham tidak berubah. Dari sisi sektoral, energi menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 1,05 persen, sementara sektor finansial mencatat penurunan terdalam sebesar 1,76 persen.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar, terutama terhadap perkembangan ekonomi Indonesia di tengah gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi.

Di dalam negeri, pemerintah kembali menegaskan tidak memiliki niat melanggar batas defisit anggaran sebesar 3 persen. Namun, harga minyak yang masih tinggi dinilai dapat menguji komitmen tersebut. Harga minyak Brent pada hari ini disebut telah menyentuh USD114 per barel.

“Perkembangan itu akan menguji komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran. Di sisi lain akan mendorong penyesuaian kebijakan,” kata Tim Pilarmas, Senin, 30 Maret 2026.

Selain itu, kehati-hatian pasar disebut meningkat menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting pada pekan ini. Pada 1 April, Badan Pusat Statistik dijadwalkan mengumumkan perkembangan inflasi Maret serta data perdagangan luar negeri Indonesia.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi hari ini mencapai 25,12 miliar lembar saham dengan frekuensi 1,66 juta kali transaksi. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp14,94 triliun, sementara kapitalisasi pasar menjadi Rp12.536 triliun.

Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut melemah. Sejumlah saham yang disebut mendominasi penurunan antara lain INCO, MDKA, BBCA, NCKL, dan AMRT.

Pilarmas juga menyebut tekanan tidak hanya terjadi di pasar domestik, tetapi juga dialami mayoritas bursa saham di Asia. Menurutnya, perdagangan saham cenderung lesu akibat konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung sebulan dan belum menunjukkan tanda mereda.

Ketegangan disebut meningkat setelah Presiden Trump menyatakan akan mengambil minyak di Iran. Di sisi lain, militan Houthi di Yaman turut melakukan serangan ke Israel.

“Lonjakan harga minyak akibat perang Iran memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sehingga membayangi prospek kebijakan moneter di berbagai ekonomi utama,” kata Tim Pilarmas.