JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (31/3) sore, mencerminkan tekanan yang datang bersamaan dari faktor global dan domestik. Investor cenderung menahan ekspansi portofolio berisiko seiring meningkatnya ketidakpastian, sehingga tekanan jual membesar dan pergerakan indeks bertahan di zona merah.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup turun 43,45 poin atau 0,61 persen ke posisi 7.048,22. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turun 1,68 poin atau 0,23 persen ke posisi 715,81.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai pergerakan IHSG masih berada dalam tekanan kombinasi sentimen global dan domestik. “IHSG hari ini menurut saya masih bergerak dalam tekanan kombinasi sentimen global dan domestik,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta.
Dari sisi global, ia menyebut pasar masih dipengaruhi oleh berlanjutnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta pergerakan harga energi, terutama kenaikan harga minyak mentah. Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral utama, fluktuasi harga komoditas, dan tensi geopolitik dinilai ikut mendorong arus modal keluar dari pasar berkembang.
Dari dalam negeri, Reydi menyoroti kekhawatiran atas potensi kenaikan inflasi dan pergerakan nilai tukar rupiah. Menurutnya, investor cenderung bersikap defensif, yang terlihat dari rotasi ke saham energi dan komoditas serta mulai selektif pada saham berkapitalisasi besar. “Investor cenderung defensif, terlihat dari rotasi ke saham energi dan komoditas serta mulai selektif di big caps,” katanya.
Secara intraday, IHSG sempat dibuka menguat sebelum berbalik melemah dan bergerak di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, indeks tetap bertahan di zona merah sampai perdagangan berakhir.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor mencatat penguatan. Sektor barang konsumen primer memimpin dengan kenaikan 1,32 persen, disusul sektor kesehatan yang naik 0,43 persen dan sektor properti yang menguat 0,33 persen.
Di sisi lain, delapan sektor melemah. Sektor transportasi dan logistik turun paling dalam sebesar 4,10 persen, diikuti sektor energi yang melemah 2,53 persen dan sektor teknologi yang turun 1,33 persen.
Kondisi ini menegaskan sensitivitas pasar saham domestik terhadap perubahan sentimen global, sekaligus mencerminkan kehati-hatian investor di tengah dinamika domestik. Pelaku pasar menantikan hadirnya katalis positif dari dalam negeri untuk memulihkan kepercayaan dan mendorong minat risiko kembali.