BERITA TERKINI
IHSG Jatuh 3,27% ke 7.337,37, Pasar Tertekan Lonjakan Harga Minyak dan Sentimen Geopolitik

IHSG Jatuh 3,27% ke 7.337,37, Pasar Tertekan Lonjakan Harga Minyak dan Sentimen Geopolitik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi inflasi energi global. Tekanan pasar menguat setelah harga minyak mentah melonjak signifikan di tengah memanasnya sentimen geopolitik.

IHSG ditutup turun 248,32 poin atau 3,27 persen ke level 7.337,37. Indeks saham unggulan LQ45 turut melemah 25,47 poin atau 3,28 persen ke posisi 750,57.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyampaikan pelemahan IHSG terjadi di tengah meningkatnya sentimen geopolitik global yang memicu kekhawatiran inflasi energi. “IHSG melemah di tengah sentimen geopolitik dan potensi inflasi,” ujarnya.

Lonjakan harga minyak dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz disebut menghambat produsen minyak di kawasan tersebut menyalurkan pasokan ke pasar global, sehingga memicu pengurangan produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan.

Dampaknya, harga minyak mentah melesat. Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 11,86 persen ke level 101,68 dolar AS per barel, sedangkan minyak Brent meningkat 12,77 persen ke level 104,53 dolar AS per barel pada perdagangan sekitar pukul 17.12 WIB.

Kenaikan tajam harga energi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam konteks ini, para menteri keuangan negara G7 dijadwalkan membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis secara bersama-sama untuk menstabilkan pasar energi global. Langkah serupa pernah dilakukan pada sejumlah peristiwa, termasuk saat invasi Rusia ke Ukraina, gangguan pasokan minyak di Libya, bencana badai Katrina di Amerika Serikat, serta selama Perang Teluk pertama.

Dari Asia, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi Tiongkok. Inflasi konsumen China naik menjadi 1,3 persen secara tahunan pada Februari 2026 dari 0,2 persen pada Januari 2026. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi sejak Januari 2023 dan melampaui perkiraan pasar sebesar 0,8 persen. Kenaikan inflasi terutama dipicu lonjakan konsumsi selama perayaan Tahun Baru Imlek pada pertengahan Februari 2026. Investor kemudian menantikan data perdagangan luar negeri China untuk periode Januari–Februari 2026 sebagai indikator tambahan kondisi ekonomi regional.

Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Bank Indonesia mencatat IKK berada di level 125,2 pada Februari 2026, turun dari 127 pada Januari 2026. Penurunan ini mencerminkan melemahnya ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi, pendapatan dalam enam bulan mendatang, serta ketersediaan lapangan kerja.

Sepanjang perdagangan, IHSG dibuka melemah dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama. Tekanan jual berlanjut pada sesi kedua sampai akhir perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sebelas sektor ditutup melemah. Penurunan terdalam terjadi pada sektor barang konsumen nonprimer yang turun 5,00 persen, disusul sektor transportasi dan logistik 4,93 persen serta sektor barang baku 4,42 persen.

Di sisi saham, penguatan terbesar tercatat pada RANC, SHID, OILS, BSIM, dan MKAP. Adapun penurunan terdalam dialami BULL, PGAS, GTSI, TRUE, dan BKSL.

Aktivitas perdagangan terbilang tinggi dengan frekuensi 2.474.203 transaksi. Sebanyak 46,80 miliar lembar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi Rp23,88 triliun. Pada penutupan, 68 saham menguat, 708 saham melemah, dan 41 saham stagnan.

Tekanan juga terjadi di sejumlah bursa Asia. Indeks Nikkei Jepang melemah 2.892,10 poin atau 5,20 persen, indeks Shanghai turun 27,58 poin atau 0,67 persen, indeks Hang Seng terkoreksi 348,82 poin atau 1,35 persen, dan indeks Strait Times Singapura melemah 91,64 poin atau 1,89 persen.