BERITA TERKINI
IHSG Menguat ke 7.150, Pasar Sambut Kebijakan Pemerintah dan Menanti Data BPS

IHSG Menguat ke 7.150, Pasar Sambut Kebijakan Pemerintah dan Menanti Data BPS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada perdagangan awal April 2026. Sejak pembukaan perdagangan, IHSG bergerak di zona hijau dan naik 1,45 persen ke level 7.150.

Penguatan ini sejalan dengan proyeksi analis. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, pada Rabu (1/4/2026) menyampaikan IHSG berpotensi menguat. Ia memperkirakan level support berada pada kisaran 6.950–7.000, dengan resistansi di rentang 7.150–7.300.

Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (31/3/2026), IHSG bergerak fluktuatif dan ditutup melemah 0,61 persen atau turun 43 poin ke level 7.048. Pelemahan tersebut disertai aliran keluar modal asing, tercermin dari aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp1,17 triliun. Saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BBRI, BRMS, BUMI, BBNI, dan MBMA.

Di awal pekan, pelaku pasar mencermati arah kebijakan pemerintah dalam merespons dinamika global, terutama terkait kepastian naik atau tidaknya harga BBM di Indonesia, baik subsidi maupun non-subsidi. Pasar kemudian merespons positif setelah pemerintah menyatakan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dan belum akan menaikkan harga BBM non-subsidi.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN), melakukan efisiensi kegiatan kementerian dan lembaga, serta refocusing anggaran.

Pasar turut menantikan rilis sejumlah data ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS), termasuk inflasi dan neraca perdagangan luar negeri Indonesia. Tim Analis Mirae Asset Sekuritas memperkirakan inflasi Maret 2026 berada di sekitar 3,8 persen secara tahunan. Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyebut perkiraan tersebut sedikit di atas konsensus, didorong normalisasi base effect dan penurunan harga emas.

Meski begitu, ia menilai risiko kenaikan inflasi masih berasal dari permintaan selama Ramadan dan kenaikan harga minyak. Menurutnya, tekanan inflasi masih cenderung dipicu oleh gangguan pasokan.