BERITA TERKINI
IMF: Asia Tetap Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Global, Indonesia Punya Peluang dan Tantangan

IMF: Asia Tetap Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Global, Indonesia Punya Peluang dan Tantangan

Dana Moneter Internasional (IMF) menilai kawasan Asia, terutama negara-negara berkembang, akan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia di tengah gejolak global. Penilaian itu tertuang dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026.

IMF menyebut, meski ekonomi global menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan, Asia dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan. Kawasan ini ditopang aktivitas perdagangan yang kuat, terutama pada sektor teknologi seperti semikonduktor dan industri digital.

Menurut laporan tersebut, ekspor teknologi dari negara-negara Asia terus meningkat seiring permintaan global terhadap digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI). Tren ini turut memperkuat posisi Asia dalam peta pertumbuhan ekonomi global.

Indonesia, sebagai bagian dari Asia Tenggara, termasuk dalam kelompok negara yang berpotensi menikmati dampak positif dari perkembangan tersebut. Bersama negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh stabil di atas 4% dalam beberapa tahun ke depan.

IMF melihat sejumlah peluang strategis bagi Indonesia di tengah pergeseran pusat pertumbuhan global ke Asia. Salah satunya adalah kesempatan untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok global yang kini mengalami perubahan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.

IMF juga menyoroti adanya pergeseran perdagangan global, ketika negara-negara mulai mencari mitra baru untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan tertentu. Kondisi ini dinilai membuka ruang bagi Indonesia untuk menarik investasi serta meningkatkan ekspor manufaktur.

Di sisi lain, pertumbuhan sektor teknologi global dipandang sebagai peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat industri digital, mendorong hilirisasi sumber daya alam, dan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Pasar domestik yang besar serta pertumbuhan konsumsi yang kuat juga menjadi faktor yang dapat menarik minat investor global yang mencari stabilitas di tengah ketidakpastian dunia.

Meski peluang dinilai terbuka, IMF mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi. Salah satunya tekanan dari kenaikan harga energi dan pangan akibat konflik global. Harga energi diproyeksikan naik signifikan pada 2026, yang berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

IMF juga menilai ketergantungan terhadap impor energi membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global. Risiko lain yang disebutkan adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Untuk memaksimalkan peluang sebagai bagian dari pusat pertumbuhan Asia, IMF menilai Indonesia perlu memperkuat reformasi struktural, meningkatkan daya saing industri, serta menjaga stabilitas ekonomi makro. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dinilai dapat berperan lebih besar dalam peta ekonomi global yang tengah berubah.