BERITA TERKINI
IMF Catat Dolar AS Melemah, Rupiah Justru Dekati Rp17.000 per Dolar

IMF Catat Dolar AS Melemah, Rupiah Justru Dekati Rp17.000 per Dolar

Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat dolar Amerika Serikat (AS) tengah mengalami tekanan akibat sentimen negatif terkait independensi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Sentimen ini muncul menyusul penyelidikan atas Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menghadapi tuduhan dugaan penyalahgunaan dana publik dalam renovasi kantor pusat The Fed. Selain itu, ketegangan antara Powell dan pemerintahan Presiden Donald Trump terkait kebijakan suku bunga juga turut mempengaruhi kepercayaan investor.

Dalam laporan World Economic Outlook Update edisi Januari 2026, IMF menyebut bahwa meskipun dolar sempat menguat karena upaya lindung nilai (hedging) para investor global, tekanan kembali muncul setelah dimulainya penyelidikan terhadap ketua The Fed. Indeks dolar AS (DXY) pun tercatat melemah 0,20% ke level 99,19 pada perdagangan Senin (19/1/2026) pukul 15.00 WIB.

Kondisi pelemahan dolar AS di pasar global biasanya membuka peluang penguatan bagi mata uang negara berkembang. Namun, rupiah justru gagal memanfaatkan momentum ini. Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup melemah 0,33% ke level Rp16.935 per dolar AS, mencatatkan penutupan terlemah dalam sejarah terbaru. Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah sempat menguat 0,15% di level Rp16.850 per dolar AS.

Sepanjang hari, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.850 hingga Rp16.945 per dolar AS, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi di tengah tekanan pasar. Depresiasi rupiah ini bahkan merupakan yang terburuk di Asia pada pagi hari perdagangan, dengan pelemahan mencapai 0,21% pada pukul 09.35 WIB di level Rp16.915 per dolar AS.

Pergerakan rupiah ini juga lebih negatif dibandingkan mata uang negara lain di kawasan Asia. Misalnya, dong Vietnam melemah 0,11% ke VND 26.264 per dolar AS, won Korea Selatan turun 0,09% ke KRW 1.474,64 per dolar AS, serta peso Filipina melemah 0,08% di level PHP 59,384 per dolar AS.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru menguat, seperti baht Thailand naik 0,41% ke THB 31,29 per dolar AS, dolar Taiwan menguat 0,33% di 31,505 per dolar AS, serta dolar Singapura dan yen Jepang yang naik masing-masing 0,18% dan 0,15%. Penguatan yen konsisten dengan perannya sebagai mata uang safe haven di tengah ketidakpastian pasar. Yuan China dan ringgit Malaysia juga menunjukkan penguatan dan stabilitas dengan level masing-masing 6,9638 per dolar AS dan 4,055 per dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menduga tekanan terhadap rupiah terkait dengan spekulasi soal independensi Bank Indonesia (BI). Spekulasi ini muncul setelah Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dinominasikan sebagai pengganti Deputi Gubernur BI, Juda Agung, yang mengundurkan diri. Purbaya menilai kekhawatiran tersebut berlebihan dan tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

"Ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana, orang spekulasi BI independensinya hilang. Saya pikir tidak akan demikian," ujar Purbaya saat ditemui di kawasan Gedung DPR, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru menguat 0,64% ke level 9.133,87 pada penutupan perdagangan hari itu. Kenaikan IHSG menunjukkan adanya aliran modal asing masuk ke pasar saham domestik.

"Kalau indeks naik ke situ, pasti ada flow asing masuk juga. Jadi tinggal tunggu waktu saja rupiah menguat kembali. Suplai dolar juga akan bertambah," kata Purbaya.

Ia meyakini setelah spekulasi terkait pengangkatan Thomas di BI mereda, rupiah akan kembali menguat seiring perbaikan fondasi ekonomi dan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.