International Monetary Fund (IMF) memuji kemampuan Indonesia menjaga stabilitas perekonomian di tengah tekanan global. Apresiasi itu disampaikan dalam pertemuan dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang tengah menghadiri Spring Meetings IMF dan Bank Dunia di Amerika Serikat.
Direktur IMF Kristalina Georgieva mengatakan Indonesia mampu mengelola keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan secara optimal di tengah dinamika global yang semakin kompleks. IMF juga kembali menegaskan Indonesia sebagai salah satu “bright spot” dalam perekonomian global, dengan fundamental ekonomi yang dinilai kuat dan ditopang kebijakan yang kredibel, sehingga ketahanan ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian.
IMF mengapresiasi langkah Indonesia dalam menjaga stabilitas, termasuk sinergi kebijakan fiskal dan moneter serta disiplin mempertahankan defisit anggaran di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya menegaskan kondisi fiskal Indonesia dinilai solid dan memiliki bantalan anggaran yang memadai. Karena itu, Indonesia disebut tidak termasuk negara yang membutuhkan bantuan dana dari IMF. Ia menyebut bantalan anggaran sekitar Rp420 triliun.
Penilaian positif juga disampaikan dalam pertemuan dengan Bank Dunia dan S&P Global Ratings. Menurut Purbaya, keraguan terhadap kemampuan Indonesia menjaga disiplin fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kini semakin berkurang.
Purbaya menambahkan, Bank Dunia menyatakan minat untuk memperdalam kerja sama dengan Indonesia, khususnya dalam mendukung pembangunan jangka panjang, pengentasan kemiskinan, serta pembiayaan proyek strategis di negara berkembang.
Sementara itu, Bank Indonesia memaparkan respons kebijakan untuk menjaga daya tahan eksternal. Perry menyatakan kebijakan yang ditempuh tidak lagi bersifat konvensional, melainkan melalui bauran kebijakan terintegrasi dan adaptif.
Menurut Perry, BI mengombinasikan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas, kebijakan makroprudensial yang diarahkan untuk pro-pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran guna mendukung aktivitas ekonomi dan digitalisasi. BI juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, serta penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik.
Secara keseluruhan, BI menyatakan rangkaian pertemuan dengan IMF, Bank Dunia, lembaga pemeringkat, dan investor memperkuat keyakinan investor bahwa Indonesia tidak hanya berdaya tahan, tetapi juga semakin adaptif dan kredibel dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan.