Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Indonesia kembali dipandang sebagai salah satu titik terang perekonomian dunia. Dana Moneter Internasional (IMF) dan investor global menilai Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan secara konsisten.
Penilaian tersebut mengemuka dalam rangkaian IMF Spring Meetings 2026 di Amerika Serikat. Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyatakan Indonesia berhasil mempertahankan stabilitas makroekonomi berkat sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter.
IMF menyoroti fundamental ekonomi yang dinilai solid, disiplin fiskal dengan defisit dijaga di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), serta respons kebijakan yang adaptif sebagai faktor yang menjaga kepercayaan global terhadap Indonesia. Di saat banyak negara menghadapi tekanan eksternal, Indonesia dinilai tetap mampu mempertahankan momentum pertumbuhan, terutama ditopang oleh kuatnya permintaan domestik.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan ekonomi Indonesia masih berada di jalur yang tepat dan terkelola dengan baik. Menurutnya, stabilitas tetap terjaga, tercermin dari inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang solid, serta mulai pulihnya intermediasi perbankan.
“Bauran kebijakan kami tidak lagi konvensional, tetapi terintegrasi untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan,” ujar Perry dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).
BI mengandalkan kombinasi kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas, kebijakan makroprudensial yang pro-pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi dan digitalisasi. Bank sentral juga menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah secara fleksibel namun terukur, memperkuat daya tarik aset domestik, serta mengelola likuiditas secara hati-hati agar tetap menopang pertumbuhan.
Kepercayaan investor global turut tercermin dalam berbagai pertemuan yang dilakukan BI di New York dan Boston, termasuk dalam forum Harvard Kennedy School Policy Talk 2026. Dalam forum tersebut, investor menilai kredibilitas kebijakan Indonesia tetap terjaga di tengah volatilitas global.
Perry kembali menekankan arah kebijakan yang konsisten, dengan fokus pada stabilitas eksternal melalui pengelolaan suku bunga, intervensi valuta asing, serta penguatan likuiditas domestik. “Kami akan terus memastikan bauran kebijakan yang konsisten dan responsif untuk menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.
Dalam diskusi global bersama ekonom Harvard, tantangan ekonomi dunia disebut semakin kompleks, ditandai fragmentasi geopolitik dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan. Kondisi tersebut dinilai membuat guncangan ekonomi lebih sering terjadi dan sulit diprediksi.
Menanggapi situasi itu, BI menilai kunci menghadapi ketidakpastian adalah kebijakan yang kredibel, fleksibel, dan terkoordinasi erat antara otoritas moneter dan fiskal. Ke depan, Indonesia juga terus mendorong transformasi struktural, termasuk melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi untuk meningkatkan nilai tambah.
Secara keseluruhan, rangkaian pertemuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa Indonesia dinilai tidak hanya tahan terhadap tekanan, tetapi juga semakin adaptif dan kredibel dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan.