Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan apresiasi terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan momentum pertumbuhan.
Pujian itu disampaikan Managing Director IMF Kristalina Georgieva dalam pertemuan dengan Gubernur Bank Indonesia (BI), Menteri Keuangan RI, serta anggota DPR RI di sela rangkaian IMF Spring Meetings di Washington D.C., Selasa (14/4/2026).
Georgieva menyebut Indonesia sebagai salah satu “bright spot” dalam perekonomian global. Penilaian tersebut didasarkan pada fundamental ekonomi yang dinilai kuat, kebijakan yang kredibel, serta disiplin fiskal yang konsisten, termasuk upaya menjaga defisit di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dalam pertemuan lanjutan dengan investor global, BI menekankan bahwa respons kebijakan yang ditempuh tidak lagi bersifat konvensional. BI menyatakan menerapkan bauran kebijakan (policy mix) yang terintegrasi untuk menghadapi tekanan eksternal.
“Respons kebijakan kami bersifat adaptif dan forward-looking. Kami mengombinasikan kebijakan moneter yang fokus pada stabilitas dengan kebijakan makroprudensial yang pro-pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran digital,” tulis otoritas moneter dalam keterangan resminya, Rabu (15/4/2026).
BI juga menegaskan komitmennya dalam mengelola nilai tukar secara fleksibel namun terukur. Penguatan instrumen moneter disebut terus dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik agar tetap kompetitif di mata investor global.
Selain menjaga stabilitas jangka pendek, pemerintah memaparkan arah transformasi struktural jangka menengah. Fokus utamanya diarahkan pada penciptaan ekonomi bernilai tambah tinggi melalui program hilirisasi industri dan pengembangan sektor berbasis teknologi.
Investor global mencatat kuatnya permintaan domestik dan inflasi yang terjaga dalam sasaran sebagai pilar utama ketahanan Indonesia. Pemulihan intermediasi perbankan yang dinilai berjalan positif juga dipandang menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi riil tetap bergerak progresif.
Sinergi antara disiplin fiskal pemerintah dan kebijakan moneter BI yang independen namun terkoordinasi dinilai dapat memperkuat kredibilitas nasional. Langkah tersebut dipandang penting untuk menjaga kemampuan Indonesia beradaptasi menghadapi dinamika geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global.