Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menilai Indonesia sebagai salah satu titik terang perekonomian global dalam rangkaian IMF Spring Meetings 2026 di Amerika Serikat, Rabu (15/4/2026). Penilaian tersebut mencerminkan pandangan IMF terhadap kuatnya fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Kristalina menyebut Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, hal ini didukung oleh kebijakan yang kredibel, disiplin fiskal, serta ketahanan ekonomi yang tetap terjaga meski menghadapi tekanan eksternal.
“Indonesia kembali ditegaskan sebagai salah satu ‘bright spot’ dalam perekonomian global, dengan fundamental yang kuat dan kebijakan yang kredibel,” ujar Kristalina.
IMF juga menyoroti konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Komitmen mempertahankan defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dinilai turut memperkuat kepercayaan investor global.
Di sisi lain, permintaan domestik yang solid disebut menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumsi rumah tangga dan investasi yang tetap terjaga dinilai membantu meredam dampak perlambatan ekonomi global.
Sinyal positif itu diperkuat oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam pertemuan dengan investor di New York dan Boston di sela IMF Spring Meetings 2026. Dalam kesempatan tersebut, Perry menegaskan perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang tepat.
Perry menjelaskan, BI terus mengedepankan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan. Kebijakan moneter dipadukan dengan kebijakan makroprudensial yang propertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Untuk menjaga ketahanan eksternal, BI juga melakukan pengelolaan suku bunga, intervensi di pasar valuta asing, serta penguatan likuiditas domestik. Langkah-langkah tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan kepercayaan pasar.
“Ke depan, komunikasi kebijakan dengan investor global akan terus diperkuat agar persepsi pasar tetap positif,” kata Perry.
Secara keseluruhan, rangkaian IMF Spring Meetings 2026 menempatkan Indonesia sebagai salah satu ekonomi yang dinilai resilien. Kombinasi stabilitas makroekonomi, permintaan domestik yang kuat, serta kredibilitas kebijakan menjadi faktor yang menopang daya tarik Indonesia di mata investor global.