BERITA TERKINI
IMF Pangkas Proyeksi 2026, Risiko Resesi Global Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah

IMF Pangkas Proyeksi 2026, Risiko Resesi Global Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah

Ketidakpastian kembali membayangi prospek ekonomi dunia. Setelah sempat menunjukkan momentum positif pada akhir 2025, pemulihan global kini menghadapi tekanan baru yang dinilai berpotensi mengarah pada perlambatan tajam, bahkan meningkatkan risiko resesi.

Dalam laporan terbaru World Economic Outlook, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 turun menjadi 3,1 persen. Proyeksi ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan gangguan di pasar energi global.

Direktur Departemen Riset IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, mengatakan momentum pertumbuhan yang sebelumnya diharapkan berlanjut kini terhenti akibat konflik di Timur Tengah. “Perang di Timur Tengah telah menghentikan momentum tersebut,” ujar Gourinchas dalam konferensi pers, Selasa (14/4/2026).

IMF tidak hanya menyajikan proyeksi dalam skenario dasar, tetapi juga menyiapkan dua skenario tambahan—adverse (buruk) dan severe (sangat berat)—untuk menggambarkan dampak jika konflik berlarut dan gangguan energi memburuk.

Dalam skenario adverse, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan dapat turun menjadi 2,5 persen. Sementara pada skenario severe, pertumbuhan global berpotensi merosot hingga 2 persen selama dua tahun berturut-turut. Dalam literatur ekonomi, pertumbuhan global di sekitar 2 persen kerap dipandang sebagai zona rawan yang mendekati kondisi resesi global.

IMF menekankan situasi saat ini sangat dinamis sehingga memerlukan lebih dari satu proyeksi untuk menangkap tingkat ketidakpastian yang tinggi. Pada skenario dasar (reference), konflik diasumsikan bersifat sementara, dengan kenaikan harga energi sekitar 19 persen pada 2026. Dalam kondisi ini, pertumbuhan global diperkirakan bertahan di 3,1 persen, namun inflasi meningkat menjadi 4,4 persen.

Jika gangguan energi berlangsung lebih lama dan memicu tekanan inflasi yang lebih luas, dunia dapat bergerak ke skenario adverse. Dalam skenario ini, pertumbuhan turun ke 2,5 persen, sementara inflasi naik menjadi 5,4 persen.

Adapun skenario severe menggambarkan kondisi paling ekstrem, ketika gangguan pasokan energi berlanjut hingga tahun berikutnya dan memicu instabilitas makroekonomi yang lebih luas. Dalam situasi ini, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya 2 persen, dengan inflasi melampaui 6 persen.

Gourinchas menegaskan risiko penurunan pertumbuhan saat ini sangat tinggi. “Risiko penurunan jelas sangat tinggi,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa setiap hari tanpa penyelesaian konflik membuat dunia kian dekat pada skenario yang lebih buruk.