Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 menjadi 3,1 persen. Angka ini lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya sebesar 3,4 persen, seiring meningkatnya ketidakpastian akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) yang dirilis Selasa (14/4/2026), IMF menyatakan bahwa meski ekonomi dunia diperkirakan melambat pada 2026, pertumbuhan diproyeksikan sedikit membaik menjadi 3,2 persen pada 2027.
IMF menjelaskan bahwa laporan kali ini menggunakan skema prakiraan referensi karena sulitnya membuat prediksi di tengah situasi perang. Asumsi utama yang digunakan adalah konflik akan tetap terbatas dan gangguan mulai mereda pada pertengahan 2026.
Menurut IMF, dampak paling nyata dari eskalasi konflik adalah lonjakan biaya hidup. Harga energi global diperkirakan naik 19 persen, dengan harga minyak mentah melonjak hingga 21,4 persen akibat gangguan produksi dan jalur transportasi.
Selain energi, harga makanan juga diperkirakan meningkat tajam, dipengaruhi oleh mahalnya pupuk, energi, serta ongkos angkut logistik laut. Dengan tekanan tersebut, inflasi global diproyeksikan naik menjadi 4,4 persen pada 2026.
Laporan itu juga menyoroti perbedaan dampak antar kawasan. Negara-negara berpenghasilan rendah yang bergantung pada impor energi dinilai menjadi pihak yang paling terpukul, karena kenaikan harga dan pelemahan nilai tukar mata uang.
Untuk Amerika Serikat, IMF memproyeksikan pertumbuhan 2,3 persen pada 2026. Meski dinilai stabil, hambatan perdagangan yang muncul sejak 2025 disebut masih membebani aktivitas ekonomi.
Sementara itu, IMF justru menaikkan proyeksi pertumbuhan China menjadi 4,4 persen. Kenaikan ini dikaitkan dengan langkah stimulus domestik dan penurunan tarif efektif dari Amerika Serikat.
Di Eropa, prospek pertumbuhan diperkirakan melemah dengan proyeksi turun menjadi 1,1 persen pada 2026, terutama akibat tekanan harga energi. Adapun di negara berkembang Asia, pertumbuhan diperkirakan melambat dari 5,5 persen menjadi 4,9 persen pada tahun depan.
Di luar dampak perang, IMF juga memperingatkan risiko perang dagang. Kebijakan pembatasan perdagangan dinilai memiliki peran terbatas dalam memperbaiki ketimpangan ekonomi dan dapat memperburuk kapasitas produksi global. “Pembatasan perdagangan memainkan peran terbatas dalam memperbaiki ketidakseimbangan, namun dapat memperburuk produksi,” tulis IMF dalam laporan tersebut.
IMF mendorong negara-negara untuk memperkuat koordinasi internasional guna memulihkan stabilitas hubungan ekonomi dan meningkatkan daya tahan global terhadap guncangan di masa depan.