BERITA TERKINI
IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Berisiko Mendekati 2% pada 2026 Jika Konflik Geopolitik Memburuk

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Berisiko Mendekati 2% pada 2026 Jika Konflik Geopolitik Memburuk

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan pertumbuhan ekonomi global berpotensi turun mendekati 2% pada 2026 apabila konflik geopolitik memburuk dan tekanan harga energi meningkat. Peringatan ini disampaikan dalam laporan World Economic Outlook (WEO) April 2026 yang menyoroti meningkatnya risiko perlambatan tajam ekonomi dunia.

IMF menilai, dalam skenario terburuk (severe scenario), pertumbuhan ekonomi global dapat turun signifikan hingga mendekati ambang resesi global jika perang antara Iran dan Amerika Serikat terus berlanjut. “Kondisi ini berarti dunia berada sangat dekat dengan resesi global (pertumbuhan di bawah 2 persen),” tulis IMF dalam laporannya.

Meski demikian, IMF masih memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3,1% pada 2026, melambat dari 3,4% pada 2025. IMF menyebut perlambatan tersebut bersifat moderat, namun menegaskan bahwa proyeksi dasar itu bergantung pada asumsi konflik berlangsung singkat.

Menurut IMF, apabila konflik berlangsung lebih lama dan gangguan produksi energi meluas, dampaknya terhadap pertumbuhan akan lebih dalam. Dalam skenario negatif (adverse scenario), pertumbuhan global diperkirakan turun menjadi sekitar 2,5% pada 2026. Penurunan ini didorong kenaikan tajam harga energi yang memicu inflasi dan menekan aktivitas ekonomi.

Dalam skenario terburuk, IMF menempatkan lonjakan harga energi sebagai faktor utama. IMF memproyeksikan harga minyak dapat meningkat hingga dua kali lipat dan bertahan tinggi, disertai kenaikan harga gas dan pangan. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong inflasi global naik tajam dan mempersempit ruang kebijakan moneter.

IMF juga menyoroti bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berasal dari sisi harga. Ketidakpastian yang meningkat serta pengetatan kondisi keuangan global dinilai dapat memperburuk prospek pertumbuhan. Kenaikan premi risiko dan arus keluar modal berpotensi menekan ekonomi, terutama di negara berkembang.

IMF menegaskan dampak perlambatan akan lebih besar dirasakan negara berkembang, khususnya yang bergantung pada impor energi dan memiliki kerentanan terhadap gejolak pasar keuangan. Secara keseluruhan, IMF menilai risiko penurunan pertumbuhan global kini semakin dominan, dengan arah ekonomi dunia sangat bergantung pada perkembangan konflik dan stabilitas pasar energi.