BERITA TERKINI
IMF Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5% pada 2026, Lebih Tinggi dari China dan Filipina

IMF Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5% pada 2026, Lebih Tinggi dari China dan Filipina

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5% pada 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan IMF sebelumnya dalam World Economic Outlook (WEO) edisi Januari 2026 yang menempatkan pertumbuhan Indonesia di level 5,1%.

Meski direvisi turun, proyeksi pertumbuhan Indonesia pada 2026 masih lebih tinggi dibandingkan China yang diperkirakan tumbuh 4,4% dan Filipina 4,1%. Sementara itu, India diproyeksikan tumbuh lebih kuat, yakni 6,5% pada tahun yang sama.

Dalam WEO edisi April 2026, IMF menyoroti bahwa perang menjadi faktor yang membebani prospek ekonomi dunia pada 2026. IMF menyebut aktivitas global menghadapi ujian besar setelah sebelumnya dibayangi hambatan perdagangan yang lebih tinggi dan meningkatnya ketidakpastian, kemudian diperburuk oleh pecahnya perang di Timur Tengah.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1% pada 2026 dan 3,2% pada 2027. Proyeksi ini disebut menjadi yang terlemah dibandingkan rata-rata pertumbuhan 3,4% pada 2024–2025, serta lebih rendah dari rata-rata 3,7% pada periode 2000–2019. IMF menilai perang turut mendorong revisi turun proyeksi pertumbuhan tersebut.

Dari sisi harga, inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,4% pada 2026 sebelum menurun menjadi 3,7% pada 2027. Proyeksi ini menandai revisi ke atas untuk kedua tahun tersebut.

IMF mengingatkan bahwa meski perubahan proyeksi pertumbuhan dan inflasi terlihat relatif moderat secara global, dampaknya dapat jauh lebih besar bagi kawasan konflik serta negara-negara yang lebih rentan, terutama pasar negara berkembang dan negara berkembang pengimpor komoditas yang sudah memiliki kerentanan sebelumnya.

IMF memperkirakan perang akan mereda pada pertengahan 2026. Namun, lembaga itu juga mengakui adanya kesulitan dalam menyusun asumsi dan perkiraan yang konsisten secara real-time untuk proyeksi dalam laporan WEO April.

Karena itu, IMF menyusun prakiraan referensi global dengan sejumlah skenario, termasuk kemungkinan konflik berlangsung lebih lama atau meluas. Menurut IMF, peluang terwujudnya skenario tersebut meningkat seiring berlanjutnya permusuhan dan gangguan terkait.

Dalam skenario merugikan dengan kenaikan harga energi yang lebih besar dan berkelanjutan, pertumbuhan global diperkirakan melambat lebih lanjut menjadi 2,5% pada 2026, sementara inflasi mencapai 5,4%.

Adapun dalam skenario yang lebih parah, ketika terjadi kerusakan lebih besar pada infrastruktur energi di wilayah konflik, IMF memperkirakan pertumbuhan global dapat terpangkas hingga sekitar 2% pada 2026. Sementara itu, inflasi utama diproyeksikan berada sedikit di atas 6% pada 2027.

IMF menilai dampak pada negara-negara berkembang dan negara dengan perekonomian yang sedang berkembang akan hampir dua kali lipat dibandingkan negara-negara dengan perekonomian maju.