Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2015 sebesar 0,36 persen, lebih rendah dibandingkan hasil survei Bank Indonesia (BI) yang melaporkan inflasi hingga pekan ketiga April mencapai 0,44 persen.
Kedua lembaga tersebut sepakat bahwa bahan bakar minyak (BBM) menjadi komponen utama penyumbang inflasi pada bulan tersebut, diikuti oleh kenaikan harga transportasi dan elpiji. Kenaikan harga BBM sebesar 5,7 persen tercatat memberikan kontribusi inflasi sebesar 0,22 persen pada April 2015.
Perbedaan utama antara data BPS dan survei BI terletak pada pengaruh panen raya padi terhadap harga beras dan inflasi. BPS melaporkan deflasi pada komponen beras sebesar 4,28 persen akibat panen raya pada bulan tersebut. Penurunan harga beras ini dianggap mampu menyeimbangkan kenaikan harga BBM, transportasi, dan elpiji sehingga inflasi yang tercatat lebih rendah.
Sementara itu, survei BI mencatat adanya penurunan harga beras, namun pengaruhnya terhadap harga pangan secara keseluruhan dianggap tidak signifikan. Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan kekhawatiran bahwa inflasi April dapat mencapai hampir 0,5 persen, melebihi rentang perkiraan BI sebesar 0,35 persen hingga 0,45 persen. Kekhawatiran ini didasarkan pada hasil survei pemantauan harga hingga pekan ketiga April serta volatilitas harga pangan yang masih terjadi pada pekan terakhir bulan tersebut.
Menurut Perry Warjiyo, panen raya yang terjadi pada bulan April tidak memberikan dampak besar dalam menekan harga komoditas pangan. Beberapa bahan pangan yang justru mengalami kenaikan harga cukup tinggi antara lain daging ayam dan telur ayam.
Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, menyatakan bahwa realisasi inflasi sebesar 0,36 persen masih sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Kenaikan inflasi ini terutama didorong oleh penyesuaian harga yang dilakukan pemerintah terhadap produk-produk seperti BBM dan elpiji, meskipun terdapat tekanan penurunan harga beras akibat panen padi.
Sasmito dari BPS menambahkan bahwa perbedaan perhitungan antara BPS dan BI mungkin disebabkan oleh komponen yang digunakan dalam masing-masing perhitungan. BPS mengklaim memasukkan semua komponen sampai akhir April dalam perhitungannya.