Peraih Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz memperingatkan bahwa lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) saat ini berpotensi membentuk gelembung yang dapat memicu guncangan ekonomi ketika pecah. Meski demikian, ia menilai AI pada akhirnya bisa menjadi alat yang meningkatkan produktivitas pekerja, bukan sepenuhnya menggantikan mereka.
Dalam wawancara dengan Fortune yang dikutip finance.yahoo pada 8 Maret, Stiglitz mengatakan perekonomian saat ini ditopang oleh investasi AI. Ia menilai dampaknya sudah terasa pada level makroekonomi, setidaknya dalam jangka pendek.
“Ekonomi kita saat ini ditopang oleh investasi AI. Gelembung AI,” kata Stiglitz. Ia menambahkan, “Seperti sepertiga dari pertumbuhan, atau non-pertumbuhan, yang kita alami tahun lalu didasarkan pada AI. Jadi gelembung AI ini memiliki efek makroekonomi positif dalam jangka pendek. Saya percaya soal gelembung AI dalam dua hal.”
Pertama, Stiglitz menilai gelembung AI sedang terbentuk dan kemungkinan besar akan pecah. Menurutnya, jika itu terjadi, dampaknya dapat melukai perekonomian makro. Ia juga menyoroti bahwa para pekerja berisiko menanggung biaya dari disrupsi tenaga kerja, sementara hingga kini belum ada institusi yang mampu mengelolanya secara memadai.
Kedua, Stiglitz menyampaikan bahwa apabila masa transisi dapat dilalui, teknologi yang saat ini dianggap mengancam pekerjaan justru bisa berubah menjadi “rekan kerja” yang berguna di masa depan.
Stiglitz juga menilai investasi AI saat ini didorong oleh keyakinan pasar bahwa teknologi tersebut akan berhasil secara komersial dan menghadapi persaingan terbatas. Namun, ia menganggap asumsi itu rapuh karena kompetisi global di bidang AI sudah sangat ketat.
“Pasar meyakini bahwa investasi ini akan memberikan keuntungan yang tinggi, yang didasarkan pada dua asumsi: bahwa AI akan berhasil secara teknologi dan bahwa persaingan akan terbatas,” ujarnya.
Menurut Stiglitz, bahkan jika AI berhasil secara teknologi, persaingan yang terlalu besar dapat menekan keuntungan perusahaan. “Karena jika secara teknologi berhasil, tetapi persaingannya ketat, keuntungan akan turun hingga nol, dan mereka tidak akan mendapatkan pengembalian yang mereka harapkan,” kata dia.
Ia memperingatkan bahwa pecahnya gelembung dapat berdampak buruk bagi ekonomi dalam jangka pendek. “Jika saya benar dan ada gelembung ini, pecahnya gelembung apa pun akan sangat buruk dalam jangka pendek bagi makroekonomi,” ujarnya.
Stiglitz menambahkan, risiko tersebut dapat meningkat karena AI juga berpotensi menggantikan banyak pekerjaan, terutama pekerjaan kerah putih yang bersifat rutin. Sementara itu, ia menilai sistem ekonomi saat ini belum memiliki mekanisme yang memadai untuk menangani perpindahan tenaga kerja dalam skala besar.
“Kita tidak memiliki kerangka kerja makro atau mikro untuk mengelola jenis pengungsian (perpindahan) seperti itu,” kata Stiglitz.

