Peran Amerika Serikat dalam merosotnya popularitas minyak kelapa di pasar global disebut tidak lepas dari kepentingan ekonomi untuk melindungi dan mempromosikan minyak nabati domestik, terutama minyak kedelai dan minyak jagung. Dalam periode tersebut, berbagai penelitian yang menyoroti sisi negatif minyak kelapa disebut didanai oleh asosiasi produsen minyak nabati di Amerika Serikat.
Sejumlah narasi yang berkembang kala itu menggambarkan minyak kelapa sebagai “minyak tropis berkolesterol tinggi”. Pemberitaan tersebut turut memperkuat kampanye negatif, meski minyak kelapa berasal dari tumbuhan dan disebut tidak mengandung kolesterol.
Di balik kampanye tersebut, asosiasi industri minyak nabati Amerika Serikat—termasuk produsen minyak kedelai dan minyak jagung—disebut memainkan peran besar karena kepentingan untuk menjaga dan memperluas pangsa pasar. Pada dekade 1950-an hingga 1980-an, industri minyak nabati AS menghadapi persaingan dari minyak tropis seperti minyak kelapa yang saat itu lebih populer di pasar global.
Dengan dukungan lobi yang kuat, industri ini mendorong riset yang menekankan kandungan lemak jenuh dalam minyak kelapa sebagai ancaman kesehatan, khususnya terkait penyakit jantung. Laporan-laporan tersebut kemudian digunakan secara strategis untuk membangun stigma terhadap minyak tropis, yang pada akhirnya mengarahkan konsumen beralih ke minyak nabati produksi Amerika.
Minyak kedelai menjadi fokus utama promosi karena biaya produksi yang lebih rendah dan pasokan yang melimpah di Amerika Serikat. Kampanye yang menekankan minyak kedelai sebagai alternatif yang “lebih sehat” dibanding minyak kelapa disebut mempercepat dominasi komoditas itu di pasar domestik maupun internasional.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan bahwa pada akhir 1980-an, minyak kedelai mengambil alih pangsa pasar yang sebelumnya dikuasai minyak kelapa. Pada periode tersebut, produksi minyak kedelai secara global dilaporkan melonjak hingga lebih dari 20 juta ton per tahun.
Dukungan asosiasi industri juga disebut berpengaruh terhadap kebijakan kesehatan nasional di Amerika Serikat. Pedoman diet yang mulai menganjurkan pengurangan konsumsi lemak jenuh dinilai ikut mempercepat penurunan popularitas minyak kelapa.
Rangkaian strategi ini menjadi contoh bagaimana kepentingan ekonomi dan politik dapat memengaruhi persepsi pasar. Dampaknya, produk unggulan dari negara berkembang seperti Indonesia—dalam hal ini minyak kelapa—mengalami tekanan di pasar internasional.

