Kementerian Keuangan Vietnam menilai pasar modal akan memegang peran penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi dua digit pada periode 2026–2030. Dalam skenario tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita diproyeksikan mencapai sekitar US$8.500 pada 2030, yang disebut sebagai pijakan menuju status negara maju dengan industri modern dan pendapatan tinggi pada 2045.
Untuk mencapai target itu, kebutuhan modal diperkirakan sedikitnya mencapai VND 38,5 juta miliar. Dari total kebutuhan tersebut, sekitar 20% diharapkan berasal dari anggaran negara, sementara 80% sisanya bersumber dari modal sosial. Kementerian Keuangan menekankan bahwa di tengah ruang gerak pasar uang yang dinilai terbatas, penghimpunan modal—terutama modal jangka menengah dan panjang—melalui pasar modal dan pasar saham menjadi semakin krusial.
Isu tersebut dibahas dalam program bincang-bincang Finance Street Talk di VTV8, yang menghadirkan Direktur Pusat Analisis Saigon - Hanoi Securities Joint Stock Company (SHS), Nguyen Minh Hanh. Ia menilai, meski menghadapi tantangan, pasar modal Vietnam diproyeksikan tetap menjadi saluran efektif dan penting untuk memobilisasi modal bagi perekonomian pada masa mendatang.
Nguyen Minh Hanh menjelaskan, pada fase pertumbuhan ekonomi saat ini, kebutuhan modal investasi sosial meningkat tajam hingga rata-rata sekitar US$200 miliar per tahun. Menurutnya, modal dari negara, daerah, dan investasi asing langsung (FDI) menyumbang sekitar 50%, sedangkan 50% lainnya berasal dari sektor swasta yang masih sangat bergantung pada kredit bank komersial. Ia menilai peran pasar saham dalam pembiayaan belum benar-benar menonjol.
Ia menekankan bahwa kebutuhan pembiayaan untuk infrastruktur dan investasi jangka panjang idealnya berasal dari sumber jangka panjang seperti saham dan obligasi jangka panjang, bukan dari kredit bank. Kredit bank umumnya bersifat jangka pendek dan menimbulkan tekanan pembayaran bunga yang tinggi, sehingga menyulitkan perusahaan dalam memprediksi arus kas pembayaran utang ke depan.
Meski demikian, ia mencatat dominasi sektor perbankan masih sangat besar. Total aset sektor perbankan disebut mencakup lebih dari 90% dari keseluruhan industri keuangan Vietnam. Sementara itu, sektor lain seperti perusahaan sekuritas, perusahaan manajemen dana, dan perusahaan asuransi hanya mencakup sekitar 3% dari total aset.
Dalam konteks tersebut, ia menilai wajar apabila pemerintah dan pemangku kepentingan berharap terjadi peningkatan penghimpunan dana melalui pasar saham untuk menambah sumber pembiayaan investasi sosial. Menurutnya, modal jangka panjang dari saham dan obligasi dapat membantu proyek berjalan lebih berkelanjutan dibandingkan ketergantungan pada pinjaman bank.
Terkait peran regulator, Nguyen Minh Hanh mengapresiasi langkah otoritas dalam mereformasi prosedur, memperkuat kerangka hukum, serta mempercepat proses peningkatan dan integrasi pasar Vietnam dengan pasar global. Namun ia menilai ruang inovasi produk dan layanan bagi perusahaan anggota masih terbatas karena terikat pada kerangka yang ada.
Ia berharap regulator mendorong pengembangan produk dan layanan baru agar pasar saham Vietnam memiliki ragam instrumen seperti pasar lain. Beberapa contoh yang ia sebut antara lain pengembangan produk opsi, mengizinkan hedge fund, memperluas insentif pajak untuk dana pensiun, serta mengizinkan pengujian family office.
Dari sisi kualitas emiten, ia menyebut pengawasan ketat terhadap pencatatan dan penerbitan saham telah menekan penerbitan yang tidak jelas dan dinilai berdampak positif terhadap kualitas perusahaan tercatat. Ia menyebut terdapat 1.548 perusahaan terdaftar dan terpublikasi di dua bursa saham Vietnam, dengan sejumlah indikator positif terkait kapitalisasi pasar dan likuiditas. Likuiditas pasar saham Vietnam juga disebut konsisten berada di peringkat dua teratas di kawasan ASEAN.
Ia juga menyoroti struktur kepemilikan pada sejumlah perusahaan milik negara (BUMN) yang telah tercatat. Menurutnya, banyak BUMN besar dan anak usahanya telah terdaftar, tetapi negara masih memegang porsi saham yang signifikan. Ia menyebut terdapat kasus privatisasi dan pencatatan di bursa, namun kepemilikan negara masih lebih dari 90%. Ia berharap kepemilikan negara dapat diturunkan menjadi 51% di sebagian besar perusahaan agar perdagangan saham lebih lancar bagi investor.
Selain itu, ia menilai peran perusahaan FDI tidak dapat diabaikan. Ia menyebut perusahaan FDI saat ini menguasai 80% ekspor Vietnam dan posisinya kian signifikan dalam perekonomian nasional. Menurutnya, kebijakan yang mendorong perusahaan FDI untuk melantai di bursa akan menambah jumlah perusahaan besar, meningkatkan kualitas “barang” di pasar, serta memperkuat keterhubungan dengan pasar keuangan internasional tempat perusahaan-perusahaan tersebut berkantor pusat atau terdaftar.
Nguyen Minh Hanh turut menyinggung sumber modal jangka panjang yang menurutnya penting, yakni dana pensiun sukarela. Ia menilai dana pensiun sukarela di negara maju menjadi sumber modal yang sangat jangka panjang karena pekerja dapat berkontribusi sejak mulai bekerja hingga pensiun, bahkan lebih dari 40 tahun. Ia berpendapat, jika Vietnam mengembangkan model serupa—dengan asumsi angkatan kerja sekitar 35 juta orang berkontribusi rutin setiap bulan—maka akan terbentuk arus modal jangka panjang yang besar untuk pembangunan infrastruktur dengan risiko penarikan yang rendah, sekaligus berpotensi menekan volatilitas pasar karena adanya arus kas bulanan yang berkelanjutan.
Sumber lain yang ia soroti adalah family office sebagai investor jangka panjang. Menurutnya, family office cenderung bersedia berinvestasi 10–20 tahun untuk tujuan pertumbuhan jangka panjang, dengan fokus awal pada pelestarian aset. Ia menyebut sudah ada sejumlah family office asing yang berinvestasi di Vietnam dan bertahan memegang investasi sejak 2011–2012. Ia juga menyampaikan data bahwa aset kelolaan family office secara global mencapai US$3,1 triliun dan diperkirakan menjadi sekitar US$5,1 triliun pada 2030.
Untuk investor institusional, ia mengatakan sumbernya masih banyak berasal dari dana investor individu yang dihimpun melalui reksa dana. Ia menilai reksa dana masih dapat terpengaruh fluktuasi pasar sehingga terjadi setoran dan penarikan besar-besaran mengikuti perubahan pasar. Namun, ia tetap memandang pengembangan industri reksa dana sebagai pilihan yang baik karena pengelolaan investasi yang lebih profesional dinilai dapat mengurangi volatilitas Indeks VN dibandingkan kondisi pasar yang masih didominasi investor individu.
Terkait upaya Kementerian Keuangan dan Komisi Sekuritas dalam mempromosikan pasar dan produk baru, Nguyen Minh Hanh menilai pengembangan produk baru merupakan elemen strategis kunci. Menurutnya, produk yang lebih lengkap memungkinkan investor lebih fleksibel menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar. Ia memberi contoh bahwa saat pasar membaik, investor dapat memilih strategi beli dan tahan (long-only), sedangkan ketika kondisi sulit, investor membutuhkan instrumen seperti short-selling atau produk deposito dengan suku bunga tetap tinggi ketika minat memegang saham menurun.
Ia juga menyebut potensi produk investasi lain seperti bursa kripto, bursa derivatif komoditas, dan bursa emas, yang dinilai memiliki demografi investor berbeda. Secara umum, ia menilai semakin banyak pilihan produk akan membuka ruang bagi perkembangan hedge fund. Ia menyebut di Amerika Serikat hedge fund menjadi kekuatan perdagangan utama dengan lebih dari 70% likuiditas harian, berukuran hampir US$5 triliun, dan aktif berdagang tanpa bergantung pada tren pasar.
Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan strategi SHS sebagai pelaku pasar, yakni mentransformasi model bisnis pialang tradisional menjadi manajemen aset dan manajemen kekayaan yang lebih profesional. SHS, menurutnya, memperkuat tim konsultan untuk menyediakan solusi terpadu bagi investor bisnis maupun individu dengan konsep “kontak satu titik”.
Ia menjelaskan, investor yang ingin bertransaksi mandiri ditawarkan solusi trading sendiri dengan sistem pengujian dan eksekusi strategi. Sementara investor pasif ditawarkan solusi portofolio jangka lebih panjang yang disesuaikan dengan profil risiko, termasuk kombinasi rekomendasi awal robo-advisor dan konsultasi dengan penasihat untuk menyusun portofolio final.
Nguyen Minh Hanh juga menyebut pihaknya akan mendorong edukasi pasar untuk memperkuat kepercayaan investor terhadap aktivitas investasi.