Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan pentingnya sinergi antara pelaku UMKM dan perusahaan besar untuk menghadapi kondisi ekonomi global yang terus berubah. Kolaborasi tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan usaha sekaligus membuka peluang baru di tengah ketidakpastian yang kian kompleks.
Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana, menyampaikan bahwa UMKM tidak seharusnya berada di pinggiran aktivitas ekonomi nasional. Menurutnya, pelaku UMKM perlu menjadi bagian integral dari rantai nilai industri yang lebih luas agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Pengusaha UMKM harus masuk dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar dan terhubung langsung dengan industri utama, sehingga mampu tumbuh berkelanjutan,” kata Reghi dalam seminar nasional bertema “Reposisi Kolaborasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar di Tengah Tekanan Global” yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Dalam forum tersebut, Reghi memaparkan sejumlah bentuk kolaborasi strategis yang dapat diperkuat. Di antaranya integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri, penerapan standar kualitas produk secara konsisten, pemanfaatan teknologi digital dan platform e-commerce, serta penguatan kemitraan industrial dengan perusahaan besar.
Ia juga menjelaskan langkah-langkah yang telah ditempuh pemerintah untuk memperkuat ekosistem UMKM agar lebih tangguh, inovatif, dan kompetitif, baik di pasar domestik maupun global. Program yang disebutkan meliputi fasilitasi standardisasi dan sertifikasi usaha serta produk, perluasan akses pemasaran melalui kurasi dan business matching, pengembangan holding UMKM, peningkatan literasi digital, hingga inisiasi kolaborasi dengan startup untuk menembus pasar internasional.
Reghi menilai meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, yang dipicu konflik geopolitik khususnya di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, perlu menjadi pertimbangan tersendiri. Ia menyebut dinamika tersebut tidak hanya memengaruhi stabilitas politik kawasan, tetapi juga berdampak terhadap rantai pasok energi, perdagangan global, dan stabilitas pasar keuangan dunia.
Meski demikian, Reghi menilai situasi global juga dapat membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperluas akses pasar melalui kerja sama perdagangan internasional. Salah satunya, kata dia, berasal dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 19 Februari 2026. Sejumlah komoditas seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, karet, dan tekstil dinilai memiliki prospek untuk meningkatkan ekspor ke pasar Amerika Serikat.
Selain itu, Indonesia juga telah menandatangani Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) pada 23 September 2025. Perjanjian tersebut disebut membuka peluang penghapusan tarif hingga 0 persen bagi sebagian besar produk ekspor nasional.
Reghi menambahkan, berbagai perjanjian perdagangan itu menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk bagi pelaku UMKM untuk menembus pasar global. Namun, ia menekankan peluang tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas dan daya saing produk.