BERITA TERKINI
Kesenjangan Produktivitas Tenaga Kerja Global: Eropa Memimpin, Indonesia Masih Tertinggal

Kesenjangan Produktivitas Tenaga Kerja Global: Eropa Memimpin, Indonesia Masih Tertinggal

Laporan terbaru yang merujuk pada data produktivitas negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan adanya jurang lebar nilai ekonomi yang dihasilkan pekerja di berbagai negara. Ukuran yang digunakan adalah Produk Domestik Bruto (PDB) per jam kerja berdasarkan standar Purchasing Power Parity (PPP).

Temuan ini menjadi sorotan di tengah ambisi Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) menuju visi Indonesia Emas 2045. Produktivitas per jam kerja dinilai penting karena berkaitan langsung dengan efisiensi ekonomi dan kemampuan industri menciptakan nilai tambah.

Secara umum, negara-negara Eropa masih mendominasi peringkat atas produktivitas. Namun, laporan tersebut juga menegaskan bahwa angka produktivitas tidak semata ditentukan oleh lamanya jam kerja, melainkan sangat dipengaruhi struktur ekonomi, spesialisasi industri, serta kebijakan yang membentuk arus investasi dan aktivitas bisnis.

Irlandia memimpin, tetapi dengan catatan

Irlandia mencatat produktivitas tertinggi dengan nilai sekitar USD 151 per jam kerja (sekitar Rp2,4 juta). Angka ini jauh melampaui banyak negara maju lain. Meski demikian, terdapat catatan kritis dari para ekonom: tingginya produktivitas Irlandia tidak sepenuhnya mencerminkan faktor kerja fisik semata, melainkan juga dipengaruhi kebijakan pajak yang menarik perusahaan multinasional besar—khususnya sektor teknologi dan farmasi—untuk memusatkan keuntungan di negara tersebut.

Di bawah Irlandia, Norwegia berada di posisi berikutnya dengan USD 132 per jam, yang ditopang efisiensi sektor energi. Sementara Luksemburg berada di peringkat atas dengan USD 125 per jam berkat perannya sebagai pusat keuangan.

Rata-rata produktivitas negara OECD disebut berada di kisaran USD 71 per jam. Angka ini menjadi pembanding penting untuk melihat jarak produktivitas Indonesia dibandingkan negara-negara maju.

Posisi Indonesia dalam peta global dan regional

Meski data utama berfokus pada anggota OECD, laporan juga memuat gambaran posisi Indonesia dengan merujuk pada data organisasi internasional seperti ILO dan OECD. Secara global, Indonesia berada di kisaran peringkat ke-111 dari sekitar 189 negara. Di tingkat Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia disebut berada di urutan ke-5, di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand.

Dari sisi nilai output, produktivitas tenaga kerja Indonesia diperkirakan sekitar USD 13–15 per jam kerja. Dengan perbandingan tersebut, satu jam kerja di Irlandia setara dengan hampir satu hari kerja di Indonesia dalam nilai ekonomi yang dihasilkan.

Faktor yang menahan produktivitas Indonesia

Laporan tersebut menyoroti sejumlah tantangan struktural yang membuat produktivitas Indonesia masih rendah. Pertama, kesenjangan teknologi karena pemanfaatan otomatisasi dan teknologi digital di sektor manufaktur belum merata. Kedua, kualitas sumber daya manusia yang masih menghadapi isu kesenjangan keterampilan (skills gap), sehingga jam kerja yang panjang tidak selalu berbanding lurus dengan nilai tambah per jam.

Selain itu, dominasi sektor informal menjadi faktor penting. Sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih terserap di sektor informal yang memiliki keterbatasan akses pada modal, teknologi, dan peningkatan kapasitas usaha. Kondisi ini membuat banyak waktu kerja terserap pada aktivitas bernilai tambah rendah, seperti pertanian tradisional atau jasa informal.

Mengapa produktivitas menjadi isu krusial

Laporan ini menekankan bahwa produktivitas merupakan kunci kenaikan upah riil. Tanpa peningkatan PDB per jam kerja, kenaikan upah minimum berisiko tergerus inflasi. Seorang analis ekonomi dalam laporan tersebut menilai Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan jumlah penduduk besar atau jam kerja panjang, melainkan perlu memastikan setiap jam kerja menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui inovasi dan hilirisasi industri.

Contoh negara seperti Belgia (USD 100) dan Swiss (USD 99) disebut menunjukkan bahwa populasi yang relatif kecil dapat tetap menghasilkan kemakmuran tinggi bila didukung spesialisasi industri tingkat lanjut.

Arah transformasi yang disorot

Untuk memperbaiki posisi dalam peta produktivitas global, laporan tersebut menyebut sejumlah langkah strategis. Di antaranya memperluas hilirisasi tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi juga menuju manufaktur tingkat lanjut. Selain itu, diperlukan reformasi pendidikan agar kurikulum selaras dengan kebutuhan industri masa depan, termasuk bidang kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, dan bioteknologi.

Laporan juga menekankan pentingnya investasi infrastruktur digital, termasuk pemerataan akses internet cepat hingga ke berbagai wilayah, sebagai fondasi untuk mendorong ekonomi digital dan peningkatan produktivitas.

Dengan kesenjangan yang masih lebar dibandingkan negara-negara berproduktivitas tinggi, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk mempercepat peralihan dari ekonomi berbasis komoditas dan jasa bernilai rendah menuju kegiatan ekonomi yang lebih efisien dan bernilai tambah.