BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Dinilai Berisiko Ganggu Jalur Minyak, Dampaknya ke Inflasi dan Pasar Masih Bergantung Perkembangan

Konflik Timur Tengah Dinilai Berisiko Ganggu Jalur Minyak, Dampaknya ke Inflasi dan Pasar Masih Bergantung Perkembangan

Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi ekonomi global dan pasar modal, terutama melalui risiko gangguan pasokan energi. Situasi kali ini dinilai berbeda dibanding sejumlah episode sebelumnya, lantaran meningkatnya kekhawatiran terhadap jalur strategis pengiriman minyak, termasuk Selat Hormuz.

Meski demikian, proyeksi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada Maret 2026 masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi global relatif stabil, dengan asumsi harga minyak mereda pada pertengahan tahun.

Risiko inflasi dan arah suku bunga

Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi, khususnya melalui komponen energi dan transportasi. Namun, menurut Rizki, inflasi inti masih relatif stabil. Kondisi itu membuat tekanan terhadap kebijakan moneter dinilai belum terlalu besar, sehingga bank sentral global masih memiliki ruang untuk tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga.

Fokus kebijakan The Fed dan Bank Indonesia

Di Amerika Serikat, arah suku bunga masih akan dipengaruhi dinamika inflasi dan perkembangan geopolitik. Sementara di Indonesia, Bank Indonesia disebut tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral juga belum memberi sinyal kuat penurunan suku bunga dalam waktu dekat, mencerminkan sikap kehati-hatian di tengah ketidakpastian global.

Kebijakan BBM dan konsekuensinya bagi APBN

Pemerintah memutuskan menahan harga bahan bakar minyak (BBM), yang dinilai berdampak positif bagi daya beli masyarakat dan membantu menjaga inflasi. Namun, kebijakan tersebut berkonsekuensi pada peningkatan subsidi energi. Dengan asumsi harga minyak sekitar US$85 per barel, tambahan beban subsidi diperkirakan mencapai sekitar Rp103 triliun.

Strategi investor saat gejolak geopolitik

Dalam situasi yang tidak pasti, diversifikasi disebut menjadi strategi utama. Rizki menilai sektor energi dan komoditas dapat berperan sebagai pelindung ketika volatilitas meningkat. Sejumlah komoditas juga dinilai berpotensi diuntungkan oleh tren jangka panjang, seperti transisi energi bersih dan elektrifikasi. Di sisi lain, sektor konsumsi domestik disebut dapat kembali menarik seiring perbaikan ekonomi.

Perkembangan konflik tetap jadi penentu

Secara keseluruhan, dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global dinilai sangat bergantung pada durasi ketegangan serta stabilitas pasokan energi. Untuk saat ini, inflasi masih relatif terkendali dan bank sentral cenderung berhati-hati. Bagi investor, pendekatan defensif dengan portofolio terdiversifikasi dipandang penting untuk menghadapi ketidakpastian global.