BERITA TERKINI
OJK Dorong Kolaborasi Perluas Literasi Keuangan, Sasar Gen Z dan Milenial lewat Modul MOJANG

OJK Dorong Kolaborasi Perluas Literasi Keuangan, Sasar Gen Z dan Milenial lewat Modul MOJANG

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai edukasi keuangan menjadi kunci untuk membangun kesejahteraan finansial masyarakat. Karena itu, OJK mendorong kolaborasi antara asosiasi, industri, dan regulator untuk memperluas pemerataan literasi keuangan.

Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Naomi Triyuliyani, mengatakan indeks literasi keuangan masyarakat masih tergolong rendah. Berdasarkan data OJK, indeks literasi pelajar usia 15–17 tahun berada di kisaran 51,48 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat nasional.

Untuk meningkatkan pemahaman keuangan, sepanjang 2025 OJK telah menyelenggarakan 11.931 program edukasi keuangan yang diikuti sekitar 1,6 juta pelajar. Naomi menekankan pentingnya bekal literasi keuangan bagi generasi muda maupun pekerja. Dengan pemahaman yang memadai, seseorang dinilai dapat menetapkan prioritas pengelolaan keuangan dengan lebih baik dan menggunakan layanan keuangan secara tepat guna.

Sejalan dengan upaya tersebut, OJK bersama sejumlah asosiasi meluncurkan Modul Bijak Keuangan (MOJANG). Program ini didukung Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), PT Indonesia Fintopia Technology (EasyCash), serta International Association of Registered Financial Consultant (IARFC). Modul MOJANG ditujukan bagi generasi Z dan milenial sebagai kelompok native digital, dengan harapan dapat meningkatkan literasi keuangan pada segmen tersebut.

President & Chairman IARFC Indonesia, Aidil Akbar Madjid, menyoroti pesatnya perkembangan layanan keuangan digital di Indonesia, termasuk akses pinjaman digital yang kini dapat dilakukan melalui ponsel. Namun, menurutnya, kemudahan itu belum sepenuhnya diimbangi pemahaman masyarakat. Ia menilai masih banyak orang menggunakan produk keuangan tanpa memahami cara kerja maupun risikonya, yang dapat berujung pada salah kelola keuangan, kesalahpahaman terhadap pinjaman digital, hingga maraknya pinjaman ilegal.

“Kesalahpahaman soal ini akan sangat berbahaya jika terjadi pada generasi muda (gen Z) yang sangat-sangat di-train dalam pengelolaan teknologi. Dan jumlahnya cukup besar, yaitu 28 persen dari populasi di Indonesia,” kata Aidil.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan berada di sekitar 65,43 persen. Kondisi ini mengindikasikan sebagian masyarakat telah menggunakan produk keuangan sebelum memahami fungsi dan risikonya.

Direktur Utama EasyCash, Nucky Poedjiardjo, menilai literasi keuangan sejak dini penting agar masyarakat memahami hak, kewajiban, serta risiko dalam menggunakan layanan keuangan digital. Ia menekankan perlunya sinergi berbagai pihak agar edukasi keuangan menjangkau lebih luas dan memberi dampak nyata.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menambahkan bahwa meski generasi muda memiliki tingkat adopsi teknologi yang tinggi, mereka dinilai rentan terhadap perilaku konsumtif, kesalahpahaman kredit, dan risiko pinjaman digital. Menurutnya, tantangan literasi keuangan ke depan akan semakin kompleks seiring berkembangnya produk keuangan digital, model bisnis berbasis teknologi, serta ekosistem ekonomi digital. Karena itu, edukasi keuangan perlu terus beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi muda.