BERITA TERKINI
Sentimen Global Diperkirakan Masih Membayangi IHSG pada Perdagangan 20–24 April 2026

Sentimen Global Diperkirakan Masih Membayangi IHSG pada Perdagangan 20–24 April 2026

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih dibayangi sentimen global pada perdagangan pekan depan, Senin–Jumat (20–24 April 2026). Setelah menguat 2,35 persen ke level 7.634 pada pekan lalu, pasar saham domestik diperkirakan memasuki fase konsolidasi dengan kecenderungan bergerak sideways, namun tetap volatil.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menilai penguatan indeks belum diikuti arus dana asing yang solid. Menurutnya, investor asing justru masih mencatatkan distribusi sebesar Rp2,4 triliun, dengan tekanan jual yang didominasi sektor perbankan.

Imam mengatakan, faktor global masih menjadi pendorong utama sentimen pasar, terutama dinamika geopolitik terkait konflik Amerika Serikat dan Iran. Ia menilai situasi tersebut cenderung tidak stabil dan membuat pasar sangat sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah.

Salah satu perhatian investor adalah potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur yang disebut menjadi rute sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Ketidakpastian ini dinilai turut menjaga harga energi tetap tinggi. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) bahkan sempat melonjak ke level USD102 per barel pada Maret lalu. Kondisi tersebut berpotensi memberi tekanan lanjutan terhadap inflasi global dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga.

Di sisi lain, Imam menilai kualitas pertumbuhan ekonomi global mulai tidak merata. China masih mencatat pertumbuhan solid 5 persen, namun konsumsi domestik disebut mulai melemah dan tekanan eksternal meningkat. Jika konflik regional berlanjut, risiko terhadap permintaan global dinilai menjadi ancaman nyata bagi pelaku pasar.

Selain isu geopolitik, pasar juga akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi. Dari China, investor menunggu pengumuman Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun yang diperkirakan berada di level 3,0 persen dan LPR 5 tahun di 3,5 persen. Sementara dari Amerika Serikat, data retail sales Maret diperkirakan tumbuh 1,3 persen secara bulanan, lebih tinggi dibanding sebelumnya 0,6 persen, dan akan menjadi indikator kekuatan konsumsi AS.