Perlambatan ekonomi yang melanda negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kawasan Eropa, dan Tiongkok menjadi perhatian dalam dinamika ekonomi global 2025. Pelemahan pertumbuhan di negara-negara tersebut dipicu sejumlah faktor, mulai dari kebijakan moneter yang ketat, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, hingga gangguan rantai pasok global yang belum sepenuhnya pulih.
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional, Parjiono, menilai perlambatan di negara maju berpotensi menekan negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui beberapa jalur. Ia menyebut, penurunan permintaan dari negara maju dapat mengurangi volume ekspor Indonesia dan menekan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, memburuknya sentimen global dan meningkatnya risiko dapat mengurangi aliran investasi asing langsung maupun investasi portofolio. Volatilitas pasar keuangan global juga berpotensi meningkat dan memengaruhi nilai tukar rupiah serta stabilitas sistem keuangan domestik.
Meski begitu, Parjiono menyampaikan Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang relatif kuat, didukung pasar domestik yang besar, diversifikasi ekonomi, serta kebijakan makroprudensial yang dinilai kuat.
Di tengah ketidakpastian global, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 tercatat 4,87% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian itu terjadi ketika negara-negara maju mengalami perlambatan dan tensi perdagangan dunia meningkat akibat perang tarif yang dipicu Amerika Serikat.
Dari sisi pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran turun dari 4,82% pada Februari 2024 menjadi 4,76% pada Februari 2025. Sementara itu, jumlah lapangan kerja yang tercipta pada Februari 2025 mencapai 3,59 juta, meningkat dari 3,55 juta pada tahun sebelumnya. Data tersebut dinilai menunjukkan ekonomi Indonesia masih cukup tangguh menghadapi tekanan global.
Menurut Parjiono, tantangan utama untuk menahan dampak negatif perlambatan ekonomi negara maju adalah memperkuat ketahanan ekonomi domestik. Upaya yang ditekankan antara lain menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas makroekonomi, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah dan aliran investasi ke dalam negeri. Di sisi eksternal, pemerintah juga disebut aktif menjalin kerja sama internasional strategis untuk memperluas peluang sekaligus mengurangi risiko global.
Untuk menghadapi gejolak ekonomi global yang terus berkembang, pemerintah mengadopsi berbagai strategi yang diarahkan pada penguatan daya tahan ekonomi nasional. Langkah ini mencakup kebijakan fiskal yang hati-hati dan reformasi struktural guna meningkatkan efisiensi serta daya saing jangka panjang. Di sektor industri, pemerintah mendorong pengurangan ketergantungan impor melalui penguatan kapasitas produksi dalam negeri, termasuk hilirisasi sektor strategis agar produk Indonesia memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Ekspansi kerja sama perdagangan dan investasi juga diarahkan ke negara-negara non-tradisional, seperti kawasan Afrika dan Timur Tengah. Dalam menjaga stabilitas keuangan, koordinasi antarlembaga seperti Bank Indonesia, OJK, dan LPS terus diperkuat untuk menjaga cadangan devisa dan stabilitas sektor keuangan nasional.
Terkait pengenaan tarif dari Amerika Serikat, pemerintah menempuh pendekatan diplomatik melalui jalur negosiasi untuk meredakan bea masuk dan menyesuaikan arus impor. Reformasi struktural juga terus digencarkan untuk memperbaiki iklim usaha, menghapus hambatan non-tarif, serta meningkatkan produktivitas nasional.
Pemerintah turut menjajaki peluang baru melalui peningkatan kerja sama ekonomi dengan mitra seperti BRICS, ASEAN+3, dan kawasan Eropa sebagai langkah diversifikasi pasar. Parjiono menyatakan negosiasi bilateral terus diintensifkan untuk memperluas akses pasar dan memperkuat hubungan ekonomi dengan berbagai negara.
Ia juga menyoroti partisipasi Indonesia dalam forum multilateral, antara lain Spring Meeting dan Pertemuan G20 pada April, serta Sidang Tahunan ADB dan pertemuan ASEAN+3 Finance Ministers’ and Central Bank Governors' Meeting pada awal Mei. Menurutnya, keikutsertaan tersebut mencerminkan komitmen Indonesia mencari solusi bersama atas tantangan geopolitik dan ekonomi global.
Selain itu, pemetaan produk unggulan untuk pasar regional seperti ASEAN+3 serta pasar potensial lain seperti Uni Eropa dan BRICS menjadi bagian dari strategi diversifikasi pasar ekspor, sekaligus mengurangi ketergantungan pada negara maju yang sedang melambat.
Dari sisi investasi, pemerintah menargetkan terciptanya lingkungan usaha yang lebih ramah bagi investor melalui penyederhanaan aturan, pemberian insentif pajak, percepatan reformasi birokrasi agar lebih transparan, serta digitalisasi layanan publik untuk mempercepat perizinan dan administrasi. Pembangunan infrastruktur juga didorong untuk memperbaiki konektivitas antardaerah dan menurunkan biaya logistik, disertai upaya menjaga stabilitas politik dan kepastian hukum.
Parjiono menekankan ketidakpastian global menuntut peningkatan produktivitas dan daya saing, baik bagi pelaku usaha, pekerja, maupun masyarakat. Ia menyebut pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui deregulasi, penyederhanaan birokrasi, dan pembangunan infrastruktur.
Pemerintah juga melihat ekonomi digital dan penguatan UMKM sebagai pilar penting ketahanan ekonomi ke depan. Ekonomi digital dinilai membuka peluang pertumbuhan, sementara UMKM berperan dalam penyerapan tenaga kerja dan penciptaan lapangan kerja baru. Dukungan yang didorong mencakup transformasi digital, pendampingan, hingga akses pembiayaan agar pelaku UMKM dapat naik kelas.
Di sisi lain, stabilitas harga dan pemerataan pertumbuhan turut menjadi prioritas melalui kebijakan fiskal yang hati-hati, penguatan koordinasi pusat dan daerah, serta kerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan daya beli masyarakat. Parjiono juga mengingatkan pentingnya menjaga suasana sosial dan ekonomi yang kondusif.
“Penting untuk tetap tenang dan tidak panik. Pemerintah menyadari sepenuhnya kompleksitas situasi global, dan Pemerintah terus melakukan pemantauan serta analisis yang mendalam terhadap setiap perkembangan,” kata Parjiono.

