Tingkat pendapatan rumah tangga berpengaruh kuat terhadap cara keluarga membagi uang yang diterima untuk konsumsi dan tabungan. Gambaran dari data Badan Pusat Statistik (BPS) serta Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan kecenderungan yang konsisten: semakin tinggi pendapatan, semakin besar peluang rumah tangga menyisihkan dana untuk ditabung, sementara rumah tangga berpendapatan lebih rendah umumnya mengalokasikan porsi lebih besar untuk konsumsi.
Dalam Survei Konsumen BI periode April 2022, rata-rata proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi tercatat menurun dari 74,4% menjadi 73,9%. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan, dari 68,4% menjadi 68,1%. Pada saat yang sama, proporsi pendapatan yang ditabung naik dari 15,9% menjadi 16,4%, dengan peningkatan paling tinggi juga terjadi pada kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta, dari 16,2% menjadi 19,3%.
Data tersebut mengindikasikan bahwa kelompok berpengeluaran lebih tinggi memiliki ruang lebih besar untuk menambah tabungan, sedangkan kelompok berpengeluaran lebih rendah cenderung harus memprioritaskan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perubahan proporsi konsumsi dan tabungan juga terlihat pada periode lain. BI mencatat pada Desember 2021, rata-rata proporsi pendapatan untuk konsumsi meningkat tipis dari 76,1% pada November menjadi 76,2%. Kenaikan ini terutama terjadi pada kelompok pengeluaran Rp3,1 juta–Rp4 juta per bulan. Sebaliknya, proporsi pendapatan yang ditabung menurun dari 14,6% menjadi 14,1%, dengan penurunan terbesar pada kelompok pengeluaran Rp4,1 juta–Rp5 juta per bulan.
Meski demikian, kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan pada periode yang sama justru mengalami kenaikan proporsi tabungan dari 16,1% menjadi 17,1%. Pola ini memperlihatkan bahwa rumah tangga dengan pendapatan lebih tinggi cenderung memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyeimbangkan konsumsi dan tabungan dibanding kelompok lain.
Sementara itu, contoh data pengeluaran dari BPS juga dapat memberi gambaran tentang struktur konsumsi dan potensi tabungan di tingkat daerah. Berdasarkan data BPS Kota Tasikmalaya, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan pada 2022 terdiri dari pengeluaran makanan sebesar Rp1.200.000 dan non-makanan Rp1.000.000, sehingga total pengeluaran mencapai Rp2.200.000 per kapita per bulan.
Jika pendapatan per kapita sebulan diasumsikan Rp2.500.000, maka selisih antara pendapatan dan total pengeluaran adalah Rp300.000. Sisa dana ini dapat dibaca sebagai potensi tabungan, atau sekitar 12% dari pendapatan. Dari komposisi pengeluaran tersebut, konsumsi rumah tangga di Tasikmalaya pada contoh ini kurang lebih terbagi menjadi 55% untuk makanan dan 45% untuk non-makanan.
Secara umum, rangkaian data ini memperkuat kesimpulan bahwa potensi tabungan meningkat seiring kenaikan pendapatan. Kondisi tersebut sejalan dengan konsep kecenderungan mengonsumsi dan menabung, di mana rumah tangga berpendapatan lebih tinggi cenderung memiliki porsi konsumsi yang relatif lebih rendah dan porsi tabungan yang lebih tinggi.

