Kelompok perbankan terbesar di Amerika Serikat menyatakan penolakan terhadap gagasan “skinny master accounts” pada awal Februari 2026. Konsep ini menawarkan akses terbatas ke sistem pembayaran Federal Reserve (The Fed) bagi perusahaan non-bank, dan kini menjadi titik panas dalam perdebatan yang lebih luas tentang arah inovasi pembayaran.
Perdebatan tersebut berpusat pada pertanyaan mendasar: apakah inovasi pembayaran seharusnya tetap mengalir melalui bank sebagai perantara, atau mulai terhubung lebih langsung ke infrastruktur bank sentral.
Gagasan “skinny master account” pertama kali mencuat pada akhir 2025 setelah Gubernur The Fed, Christopher Waller, memperkenalkannya sebagai cara memodernisasi rel pembayaran tanpa memberikan seluruh hak istimewa bank sentral kepada perusahaan fintech dan kripto. Dalam rancangan yang dipaparkan, perusahaan non-bank tertentu dapat memperoleh akses ke FedNow dan FedWire, namun tidak ke FedACH, jaringan pembayaran yang paling luas digunakan di Amerika Serikat.
Skema ini dirancang dengan pembatasan ketat. Akun tersebut tidak memberikan bunga atas cadangan, tidak menyediakan akses ke pinjaman darurat, serta menerapkan plafon saldo yang tegas—misalnya maksimum US$ 550 juta per hari atau 10% dari total aset. Rancangan ini secara spesifik menyasar penerbit stablecoin, pemroses pembayaran, serta perusahaan keuangan berorientasi kripto yang ingin terhubung lebih dekat ke sistem pembayaran inti.
Industri perbankan bergerak cepat menentang usulan itu. Pada 9 Februari 2026, sejumlah asosiasi perbankan berpengaruh—termasuk Bank Policy Institute, The Clearing House Association, American Bankers Association, dan Financial Services Forum—mengirim surat komentar bersama yang mendesak The Fed untuk memperketat proposal tersebut.
Keberatan yang disampaikan bank-bank tidak semata bersifat teknis, melainkan menyoroti standar pengawasan dan risiko. Mereka berargumen banyak fintech dan perusahaan kripto belum berada di bawah pengawasan federal yang konsisten, sehingga dinilai tidak semestinya memperoleh akses ke infrastruktur kritikal tanpa rekam jejak operasi yang aman dan sehat.
Selain itu, kelompok perbankan mendorong adanya masa tunggu 12 bulan sebelum perusahaan yang baru mendapatkan lisensi dapat mengajukan akses. Menurut mereka, pemberian akses terlalu cepat berpotensi melemahkan kerangka kehati-hatian, sekaligus dapat mengubah dinamika persaingan dalam ekosistem pembayaran.
Di balik bahasa kehati-hatian, perselisihan ini juga mencerminkan perebutan kendali atas jalur utama pembayaran. Selama ini, bank memiliki akses langsung ke sistem pembayaran The Fed dan menjadi gerbang utama bagi perusahaan fintech, termasuk penerbit stablecoin yang umumnya harus menggandeng bank mitra untuk terhubung ke infrastruktur pembayaran.
Jika perusahaan non-bank memperoleh akses, meski terbatas, posisi bank sebagai perantara berpotensi melemah dan lanskap persaingan di sektor pembayaran dapat bergeser.
Dari sisi fintech dan industri kripto, dukungan terhadap ide akses terbatas ini disebut cukup luas, meski banyak pelaku menilai rancangan yang ada masih terlalu sempit untuk mengatasi persoalan yang mereka hadapi. Sejumlah perusahaan mengeluhkan ketergantungan pada segelintir bank mitra yang berperan sebagai “penjaga gerbang” layanan pembayaran.
Beberapa pihak, seperti Circle dan Anchorage Digital, mendorong agar akses juga mencakup FedACH serta memungkinkan perolehan bunga atas cadangan. Sementara itu, perusahaan pembayaran seperti Stripe memandang model akun tersebut sebagai jembatan potensial antara sistem tradisional dan pembayaran yang lebih digital-native.
Tarik-menarik ini berlangsung dalam konteks politik dan hukum yang kian relevan. Pada Oktober 2025, 10th Circuit Court of Appeals memperkuat kewenangan The Fed untuk menolak permohonan master account. The Fed juga sempat mengubah pendekatan pengawasan pada 2025 dengan menarik kembali panduan supervisi yang spesifik untuk kripto dan menggeser pemeriksaan ke proses standar.
Dengan berbagai kepentingan yang bertemu—dari pengawasan, risiko sistemik, hingga persaingan bisnis—wacana “skinny master account” kini menjadi salah satu medan baru dalam hubungan antara bank, fintech, dan perusahaan kripto di Amerika Serikat.

