Penutupan permanen operasional PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) diperkirakan membawa dampak luas bagi perekonomian lokal, terutama di wilayah sekitar perusahaan. Dampak paling langsung dirasakan oleh ribuan pekerja yang kehilangan pekerjaan sekaligus sumber pendapatan.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, hilangnya pekerjaan tidak hanya memutus penghasilan, tetapi juga menggerus rasa aman dan stabilitas finansial yang selama ini dimiliki karyawan. Menurutnya, banyak pekerja menanggung kebutuhan keluarga yang bergantung pada gaji bulanan.
“Banyak dari mereka memiliki keluarga yang bergantung pada penghasilan tersebut. Tanpa sumber pendapatan yang stabil, mereka menghadapi kesulitan finansial serius, termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar,” ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Minggu (2/3).
Skala dampak sosial tersebut tercermin dari data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah yang mencatat 10.965 buruh dan karyawan di empat perusahaan terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) PT Sritex Tbk setelah perusahaan diputus pailit oleh Pengadilan Niaga.
Yusuf menambahkan, penutupan Sritex juga berpotensi menekan aktivitas ekonomi di daerah sekitar. Sebagai salah satu pengusaha terbesar di wilayahnya, Sritex selama ini disebut menjadi salah satu penopang pendapatan masyarakat setempat.
Hilangnya ribuan pekerjaan diperkirakan akan menurunkan daya beli, yang pada gilirannya melemahkan konsumsi dan menggerus bisnis lokal seperti toko, restoran, serta penyedia layanan lainnya. Penurunan aktivitas ekonomi ini juga dinilai dapat berimbas pada berkurangnya pendapatan pajak daerah, sehingga berpotensi menghambat penyediaan layanan publik dan pembangunan infrastruktur.
Di luar dampak lokal, Yusuf menilai kejatuhan Sritex turut memunculkan pertanyaan mengenai daya saing dan keberlanjutan industri tekstil di kawasan, termasuk Indonesia. Ia menyebut industri tekstil Asia Tenggara telah lama menghadapi tekanan, mulai dari persaingan impor tekstil murah—terutama dari China—hingga kebutuhan modernisasi teknologi dan penyesuaian terhadap perubahan permintaan pasar global.
Menurut Yusuf, kondisi yang dialami Sritex mencerminkan tantangan struktural yang lebih dalam. Ia menilai perusahaan tekstil di Indonesia perlu berinovasi dan melakukan diversifikasi agar tetap mampu bersaing dalam pasar yang makin kompetitif.
Ia juga memandang situasi ini sebagai sinyal bagi pemerintah dan pemangku kepentingan industri untuk lebih proaktif menjaga keberlanjutan sektor tekstil nasional. Langkah yang disebut dapat dipertimbangkan antara lain pemberian insentif untuk modernisasi teknologi atau penerapan kebijakan yang melindungi industri dari persaingan impor yang tidak sehat.
Di saat yang sama, Yusuf menekankan pentingnya langkah konkret untuk membantu pekerja terdampak agar dampak sosial dan ekonomi dari penutupan Sritex dapat diminimalkan, sekaligus menjaga masa depan industri tekstil nasional tetap berdaya saing.

