Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan serangkaian pernyataan keras terkait Iran dan Selat Hormuz. Ucapan Trump dinilai menambah ketidakpastian pasar global, yang berpotensi merembet ke pasar keuangan Indonesia—mulai dari pergerakan rupiah hingga perubahan minat investor terhadap aset aman.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Dalam pemberitaan yang beredar, sekitar 20–30% pasokan minyak mentah global melintasi selat tersebut setiap hari. Karena itu, setiap sinyal eskalasi konflik di kawasan Teluk kerap memicu kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi dan dampaknya terhadap inflasi serta pertumbuhan ekonomi.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut Selat Hormuz “akan terbuka dengan sendirinya secara alami ketika konflik berakhir” dan menegaskan Amerika Serikat “tidak pernah membutuhkan Selat Hormuz dan tidak membutuhkannya sekarang”. Di saat yang sama, ia juga mengancam akan “menghantam Iran dengan sangat keras dalam 2–3 minggu ke depan” serta menyinggung opsi menargetkan aset minyak Iran, termasuk potensi penyitaan fasilitas energi utama. Rangkaian pernyataan ini memunculkan spekulasi pasar mengenai arah kebijakan AS, apakah mengarah pada tindakan militer yang lebih agresif atau bagian dari strategi tekanan dan diplomasi.
Ketegangan AS-Iran sendiri bukan hal baru. Hubungan kedua negara telah lama diwarnai sanksi dan perselisihan, terutama setelah AS keluar dari perjanjian nuklir Iran dan memperketat sanksi ekonomi. Sejumlah insiden di kawasan Teluk—seperti gangguan terhadap kapal tanker dan insiden drone—kerap disebut sebagai bagian dari eskalasi yang membuat pasar sensitif terhadap setiap perkembangan terbaru.
Di pasar keuangan, meningkatnya ketidakpastian biasanya mendorong pergeseran ke mode “risk-off”, yakni ketika investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti ini, emas kerap menjadi tujuan utama karena statusnya sebagai aset lindung nilai. Dolar AS juga sering menguat karena posisinya sebagai mata uang cadangan global, meski arah pergerakannya dapat bervariasi tergantung apakah ketegangan tersebut dipersepsikan akan membebani ekonomi AS secara langsung.
Sementara itu, mata uang negara berkembang cenderung menghadapi tekanan ketika sentimen global memburuk. Dalam konteks Indonesia, kondisi tersebut dapat membuat rupiah lebih rentan berfluktuasi apabila arus modal asing berbalik arah. Perubahan sentimen juga dapat terasa pada instrumen lain yang terkait dengan risiko global.
Selain faktor “risk-off”, pernyataan terkait Selat Hormuz turut memengaruhi ekspektasi pasar energi. Kekhawatiran gangguan pasokan di jalur strategis itu dapat memicu lonjakan harga minyak mentah. Jika harga energi naik, dampaknya bisa meluas ke perekonomian global: inflasi berpotensi meningkat, sementara bank sentral di berbagai negara dapat terdorong mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama. Situasi ini dinilai dapat menambah tekanan pada ekonomi dunia yang disebut masih rapuh, di tengah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan.
Pergerakan sejumlah pasangan mata uang utama juga dapat dipengaruhi oleh dinamika tersebut. Euro dan poundsterling, misalnya, dapat sensitif terhadap kenaikan harga energi dan risiko perlambatan ekonomi. Yen Jepang kerap dipandang sebagai aset safe haven, sehingga dalam kondisi risk-off yang kuat, yen berpotensi menguat. Namun, arah akhirnya bergantung pada bagaimana pasar menilai dominasi permintaan terhadap dolar AS dibanding aset aman lainnya.
Secara historis, gejolak di Timur Tengah berulang kali memicu volatilitas di pasar minyak dan aset safe haven. Krisis minyak pada 1970-an dan ancaman penutupan Selat Hormuz pada 2012 kerap dijadikan contoh bagaimana risiko geopolitik di kawasan tersebut dapat mengerek harga minyak dan mendorong kenaikan permintaan terhadap emas.
Bagi pelaku pasar, situasi seperti ini kerap menghadirkan peluang sekaligus risiko. Volatilitas dapat meningkat tajam, terutama pada fase awal ketika pasar merespons berita dan pernyataan terbaru. Namun, pergerakan juga dapat berubah cepat seiring munculnya klarifikasi atau perkembangan baru di lapangan. Karena itu, pelaku pasar umumnya menaruh perhatian pada manajemen risiko, mengingat reaksi awal pasar dapat berlebihan sebelum menemukan keseimbangan baru.
Secara keseluruhan, pernyataan Trump terkait Iran dan Selat Hormuz menambah ketidakpastian yang dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas, arus modal, dan nilai tukar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dengan kondisi ekonomi global yang masih dibayangi inflasi dan kekhawatiran perlambatan, perkembangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menjadi faktor tambahan yang memperbesar gejolak pasar dalam waktu dekat.