BERITA TERKINI
PLN Electricity Services Paparkan Dampak Penerapan GRC Terintegrasi pada Kinerja dan Keberlanjutan Bisnis

PLN Electricity Services Paparkan Dampak Penerapan GRC Terintegrasi pada Kinerja dan Keberlanjutan Bisnis

Jakarta—PT PLN Electricity Services (PLN ES) melaporkan capaian penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang dinilai berkontribusi pada penguatan kinerja perusahaan sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis. Perusahaan menyebut keberhasilan tersebut tercermin dari peningkatan kinerja keuangan dan operasional, serta perolehan skor Good Corporate Governance (GCG) tertinggi di lingkungan PLN Group.

Dalam penjurian TOP GRC Awards 2025, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Human Capital PLN ES, Isral, menyampaikan bahwa GRC di perusahaan tidak diposisikan semata sebagai alat pengendalian internal, melainkan sebagai penggerak penciptaan nilai dan keberlanjutan jangka panjang. “Kami memandang GRC sebagai pondasi strategis yang menjaga integritas operasional, memperkuat resiliensi, dan mendukung transformasi menuju bisnis yang adaptif, hijau, dan berkelanjutan,” ujar Isral dalam presentasi penjurian yang dilakukan secara daring, Jumat (25/6/2025).

Penjurian tersebut turut dihadiri jajaran manajemen, antara lain Susiana Mutia (Direktur Utama), Eko (Ketua SPI), Aep Saepudin (Sekretaris Perusahaan), Sigit Arimurti (VP Perencanaan), Gana (Manajer Risiko dan Kepatuhan), Dian Maya (Manajer Hukum), Dharma (Manajer IT), Pantas Panjaitan (Manajer Tata Kelola dan Sekretaris), serta Teguh (Asman Tata Kelola).

PLN ES menyatakan penerapan GRC terintegrasi berdampak pada kinerja perusahaan. Pada 2024, perusahaan mencatat pertumbuhan laba bersih lebih dari 100% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan usaha juga disebut meningkat, ditopang sektor beyond KWH yang menyumbang Rp 321 miliar, naik 69% dari tahun sebelumnya.

Isral menambahkan, salah satu pendorong pertumbuhan terbesar berasal dari ekosistem kendaraan listrik (EV Ecosystem) yang meningkat lebih dari 1.000%. “Kinerja ini menjadi bukti nyata bahwa sistem GRC yang baik berdampak langsung pada ketahanan dan daya saing bisnis,” kata Isral.

Dalam operasionalnya, PLN ES melayani lebih dari 32 juta pelanggan PLN, mengelola Rp 18,41 triliun pendapatan PLN per bulan, serta mendukung operasional 18 unit induk, 122 unit pelaksana, dan 515 unit pelayanan PLN di seluruh Indonesia.

Untuk memperkuat tata kelola, PLN ES membangun struktur GRC berbasis prinsip three lines of defence dan four eyes principle guna memastikan pengambilan keputusan yang akuntabel dan berbasis risiko. Direksi menjadi pengambil keputusan utama dengan dukungan sekretaris perusahaan, fungsi hukum, manajemen risiko dan kepatuhan, serta satuan pengawas internal.

Perusahaan juga menyebut penguatan dilakukan melalui kebijakan internal, antara lain Board Manual, pedoman tata kelola, pedoman perilaku, serta sistem pelaporan pelanggaran (whistleblowing system) multikanal. Sejak 2020, skor asesmen GCG PLN ES meningkat dari 83,05 menjadi 94,29 pada 2024, yang disebut sebagai tertinggi di antara subholding dan anak usaha PLN lainnya. “GRC di PLN ES bukan hanya kepatuhan pada aturan, tetapi juga membentuk budaya integritas dan transparansi,” ujar Isral.

Dalam pengelolaan risiko, PLN ES menerapkan ISO 31000 dan menyusun profil risiko 2025 yang mencakup tiga risiko level tinggi, dua risiko moderate to high, serta empat risiko moderat. Risk Maturity Index perusahaan berada di angka 2,4 pada 2024 dan ditargetkan mencapai 4,12 pada 2029.

Di sisi kepatuhan, perusahaan menjalankan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berbasis SNI ISO 37001. Lima mekanisme utama diterapkan, mulai dari penandatanganan komitmen pimpinan, pelaporan implementasi, pelatihan berjenjang, hingga integrasi LHKPN dan fakta integritas tahunan.

Isral menyebut digitalisasi menjadi salah satu penopang penerapan GRC. Sistem pengadaan telah menggunakan platform digital smart procurement yang memungkinkan pemantauan secara real-time dan ditujukan untuk memastikan transparansi dengan mitra penyedia barang dan jasa.

Selain itu, roadmap TI PLN ES menargetkan pengembangan predictive maintenance, otomasi sistem, dan kecerdasan buatan (AI) pada periode 2026–2028. Sejumlah aplikasi internal—Home Hub of Modern Electricity Services, OASIS, ISEdu, SafliSurem, dan SmartPay—juga digunakan untuk mendukung proses bisnis, pengelolaan SDM, hingga pengawasan keselamatan kerja.

PLN ES juga menyatakan telah mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam sistem manajemen risiko dan kepatuhan. Komitmen keberlanjutan diwujudkan melalui pengelolaan limbah, pengurangan emisi, adaptasi perubahan iklim, serta program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL). “Kami percaya bahwa integrasi GRC, ESG, dan TJSL akan mendorong terciptanya nilai tambah dan mendukung agenda keberlanjutan jangka panjang,” kata Isral.

Atas capaian tersebut, PLN ES mencatat sejumlah penghargaan, di antaranya Best Subsidiary Achievement of The Year 2024 (PLN Group), Penyampaian Laporan Keuangan Terbaik 2024 PLN Group, Trusted Company Based on Governance Perception Index (CGPI), The Best EV Ecosystem Developer at Bussiness Development Forum, Overseas Market Pioneering Award dari SGMW (SAIC-General Motors-Wuling), The Leading Charging Station Installation Service Company, Top CSR Awards 2024 # Star 5, serta Top GRC Awards 2024 # Star 4.

Isral menutup dengan menegaskan keyakinan perusahaan bahwa penerapan GRC yang terintegrasi akan berkontribusi pada pengamanan bisnis PLN sekaligus meningkatkan performa PLN ES. “Kami yakini bahwa keberhasilan GRC yang terintegrasi secara masif akan memberikan kontribusi besar dalam mengamankan bisnis PLN dan meningkatkan performa PLN ES secara menyeluruh,” ujarnya.