BERITA TERKINI
PLN Indonesia Power Jalankan Program “Ewako Lowita” di Pinrang, Padukan Konservasi Penyu dan Pemberdayaan Ekonomi Pesisir

PLN Indonesia Power Jalankan Program “Ewako Lowita” di Pinrang, Padukan Konservasi Penyu dan Pemberdayaan Ekonomi Pesisir

PLN Indonesia Power (PLN IP) melalui Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Barru menjalankan program “Ewako Lowita” di Pantai Lowita, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Program eko-eduwisata berbasis konservasi penyu ini dirancang untuk menjawab persoalan degradasi lingkungan pesisir sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.

Program tersebut memadukan perlindungan habitat penyu, pengembangan pariwisata edukatif, serta pengelolaan limbah berkelanjutan. Inisiatif ini dikembangkan sebagai respons atas timbulan sampah di wilayah pesisir yang disebut mencapai 1.890 kilogram per bulan, serta adanya ancaman perburuan telur penyu yang dipengaruhi rendahnya kesadaran konservasi.

Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernardus Sudarmanta, menyatakan program ini merupakan bagian dari visi perusahaan yang tidak hanya berfokus pada ketahanan energi nasional, tetapi juga pada keberlanjutan yang memberi manfaat bagi masyarakat. “Ewako Lowita bukan sekadar program CSR, melainkan wujud nyata strategi korporasi dalam mengimplementasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),” ujarnya dalam keterangan pada Rabu (1/4).

Menurut Bernardus, program ini juga mengintegrasikan pemanfaatan FABA (Fly Ash & Bottom Ash) untuk mendukung infrastruktur konservasi. Ia menyebut penggunaan 30 ton FABA dilakukan untuk pembangunan sarana konservasi, sebagai upaya menunjukkan bahwa limbah industri dapat dimanfaatkan kembali.

Ia menambahkan, pelaksanaan program melibatkan sinergi pentahelix yang mencakup pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menciptakan nilai tambah bersama yang berkelanjutan. Bernardus juga menyampaikan program ini berpotensi memitigasi emisi karbon hingga 10,21 ton CO2 eq per tahun serta mendorong kemandirian ekonomi kelompok rentan di Desa Wiringtasi.

Sejak diinisiasi, program Ewako Lowita dilaporkan menghasilkan sejumlah dampak sosial dan lingkungan. Dari sisi pemberdayaan, program melibatkan 21 pemuda produktif sebagai pengelola, 10 ibu rumah tangga dalam pembuatan suvenir dari sampah anorganik, serta nelayan yang bertransformasi menjadi ranger penyelamat telur penyu.

Dari aspek ekonomi, program mencatat pendapatan langsung hingga Rp 86,4 juta per tahun bagi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dari sektor wisata edukatif, sekaligus memberikan insentif untuk pengelolaan sampah komunitas.

Di bidang konservasi dan edukasi, program melindungi enam lokasi habitat alami sarang penyu, menanam 350 pohon cemara laut, serta mengedukasi lebih dari 300 siswa dan sekitar 3.000 pengunjung per tahun mengenai pentingnya menjaga rantai makanan laut.

Untuk pengelolaan sampah, sepanjang 2025 program ini disebut berhasil mengelola 22.680 kilogram sampah pesisir melalui sistem Bank Sampah yang terintegrasi.

Salah satu aspek yang disorot adalah penggunaan material berbahan FABA pada pembangunan rumah penetasan penyu. Struktur beton ini dinilai lebih tahan terhadap banjir rob dibandingkan material kayu yang sebelumnya digunakan. Dengan pendekatan tersebut, Ewako Lowita disebut menjadi sistem pengelolaan wisata edukatif berbasis konservasi penyu yang komprehensif di wilayahnya.

PLN Indonesia Power menyatakan program Ewako Lowita diarahkan untuk berkontribusi pada capaian sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama poin Iklim (13), Ekosistem Laut (14), Ekosistem Darat (15), serta Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (8).