PT PLN Nusa Daya menegaskan komitmennya memperkuat tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk, and Compliance/GRC) sebagai fondasi transformasi bisnis berkelanjutan.
Dalam ajang TOP GRC Awards 2025 yang digelar Majalah Top Business bersama lembaga GRC, PLN Nusa Daya memaparkan berbagai inisiatif dan capaian penguatan sistem GRC di seluruh lini usaha. Perusahaan menyebut GRC sebagai kunci menjaga stabilitas bisnis sekaligus merespons tantangan energi masa depan, sejalan dengan tema acara “Resilience to Sustainability: Leading Through GRC”.
Manajer Tata Kelola dan Komunikasi PLN Nusa Daya, Fakul Rohman, mengatakan keberlanjutan dan daya tahan bisnis memerlukan fondasi tata kelola, pengelolaan risiko, dan kepatuhan yang kuat. “GRC bukan sekadar instrumen, tapi budaya yang kami tanamkan di seluruh unit,” ujarnya dalam presentasi, Senin (7/7/2025). Ia didampingi Fachriza Mizafin AMN GCG dari Kesekretariatan dan Internal Direksi.
Fakul menjelaskan, penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dilakukan melalui sistem terstruktur dari Direksi, Dewan Komisaris, hingga Satuan Pengawas Internal (SPI). Penilaian GCG perusahaan pada 2024 mencapai skor 90,902 berdasarkan asesmen independen. Perusahaan juga menjalankan mekanisme pelaporan seperti Whistleblowing System (WBS) dan Laporan Kekayaan Penyelenggara Negara (LKPN) dengan kepatuhan 100%, termasuk program Anti-Gratifikasi dan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang diterapkan sejak 2020.
Di sisi manajemen risiko, PLN Nusa Daya mengintegrasikan ISO 31000 ke dalam seluruh proses bisnis dengan pendekatan tiga lini pertahanan (Three Lines of Defense). Lini pertama berada pada divisi operasional sebagai pelaksana, lini kedua pada unit hukum dan manajemen risiko sebagai pengendali, dan lini ketiga pada SPI sebagai fungsi audit internal. Perusahaan memonitor 13 profil risiko utama, mencakup risiko teknologi, keuangan, operasional, hingga keamanan siber. Risk Maturity Index tercatat 2,9 dan disebut berada pada fase “praktik baik”.
Untuk aspek kepatuhan, kebijakan operasional PLN Nusa Daya mengacu pada Permen BUMN No. 2 Tahun 2023 tentang Tata Kelola dan Kegiatan Korporasi BUMN. Perusahaan menyatakan seluruh keputusan bisnis melewati tinjauan hukum, manajemen risiko, dan kepatuhan. Sebagai bukti implementasi, 100% pegawai yang masuk kategori wajib lapor telah menyerahkan LHKPN, sementara transaksi dan kerja sama bisnis dilakukan melalui sistem digital yang dapat diaudit dan dilacak.
PLN Nusa Daya juga menerapkan GRC terintegrasi, antara lain melalui penggabungan website Whistleblowing System dengan PLN Holding, pelaksanaan audit bersama dengan PLN Holding, serta keanggotaan dalam Tata Kelola Terintegrasi PLN (Persero). Perusahaan juga mendelegasikan pegawai menjadi anggota Satuan Kepatuhan Terintegrasi, Satuan Pengawas Intern Terintegrasi, dan Satuan Manajemen Risiko Terintegrasi. Penerapan ini disebut mengacu pada Permen BUMN nomor PER-2/MBU/03/2023 tentang Pedoman Tata Kelola dan Kegiatan Korporasi Signifikan.
Menurut Fakul, implementasi GRC berkontribusi terhadap kinerja perusahaan sepanjang 2024. PLN Nusa Daya mencatat realisasi pendapatan usaha 2024 sebesar Rp3,246 triliun, mencapai 113% dari RKAP dan tumbuh 37% dibanding 2023. Realisasi beyond kWh sebesar Rp15,41 miliar tumbuh 190% dari 2023 dan melebihi RKAP 2024 sebesar 145%. Laba usaha dilaporkan tumbuh 25% dari 2023, sementara laba bersih 2024 sebesar Rp158,9 miliar atau meningkat 47% dibanding 2023.
Perusahaan juga mencatat adanya penambahan FTK dari 155 menjadi 215 atas Tugas Karya AMC Kit (Surat DIRLHC No. 33072) tanpa penambahan pagu anggaran biaya kepegawaian. Selain itu, BPP terdampak kenaikan biaya mobilisasi terkait ancillary service AMC mobilisasi sewa pembangkit sebesar Rp43 miliar.
Fakul menyampaikan total aset perusahaan sebesar Rp1,35 triliun dan realisasi total ekuitas Rp597 miliar, tumbuh 36% dari 2023. Pertumbuhan ini disebut dipengaruhi oleh laba rugi tahun berjalan yang meningkat 47% dibanding tahun sebelumnya.
Dengan penguatan GRC, PLN Nusa Daya menyatakan tidak hanya menargetkan pertumbuhan finansial, tetapi juga memperkuat daya saing di sektor energi nasional. Perusahaan disebut dipercaya mengelola instalasi listrik di berbagai sektor strategis, termasuk tambang, bandara, dan fasilitas publik.
PLN Nusa Daya juga menyampaikan dukungan terhadap net zero emission, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dan transisi energi melalui sejumlah program, antara lain pilot project PLTS Hybrid di Pulau Maratua, ekosistem kendaraan listrik di Ibu Kota Nusantara (IKN), serta eksplorasi hidrogen sebagai sumber energi masa depan.
“GRC bukan hanya alat kontrol, tetapi bagian dari strategi kami untuk tumbuh efisien, berdaya saing, dan berkontribusi pada pembangunan nasional,” kata Fakul.

